Friday, 3 March 2017

Ikan Lele dan Ibu Tiri

Bagaimana rasanya menjadi ikan lele yang dipaksa berada di darat terus-menerus? Ya, memang, ikan lele memang masih bisa hidup tanpa air untuk beberapa waktu. Tapi tentunya dia tidak akan bisa hidup jika terlalu lama berada di tempat yang tidak ada air. Jadi, apa jawabannya? Bagaimana rasanya? Coba kita baca cerita Sang Lele yang sedang sekarat.

Sudah dua Jumat ini aku diminta oleh seorang teman untuk menggantikan dia mengajar kelas 4-6 SD di lokasinya. Singkat cerita, mau tidak mau aku terpaksa menerimanya. Jumat minggu lalu, aku mengajar di sana. Anak kelas 4, tidak ada masalah. Meskipun ada beberapa anak yang terlambat karena bermain sepeda sampai lupa waktu. Mereka manis, mudah diatur, penurut, dan terbuka. Dengan materi Reading - My Birthday, satu jam dilalui dengan cepat. Ternyata mereka termasuk murid-murid yang pandai.

Satu jam berikutnya, kelas 5. Hanya satu anak yang datang, tapi kemudian satu anak menyusul setelah setengah jam pelajaran berlalu. Alasannya klise, ketiduran. Tidak terlalu mengganggu proses pembelajaran, hanya saja aku harus mengulang dengan cepat apa yang telah dia lewatkan agar anak yang tidak terlambat juga tidak terganggu dengan keterlambatan anak satunya. Satu jam berlalu dengan ketenangan.

Jam terakhir, kelas 6. "Hanya satu anak? Padahal katanya tiga belas. Bagus lah, fewer is better." Tapi tak berapa lama segerombolan anak perempuan datang. Satu anak berceletuk, "Yah, dudu Miss Nana." Ekspresi yang sudah ku prediksi sebelumnya. Singkat cerita, aku tidak terlalu suka dengan anak-anak kelas 6 ini.

Jumat kedua, hari ini. Ada insiden nyasar, tapi tidak terlalu menghambat. Kelas 4 memang dari minggu sebelumnya tidak ada masalah. Tapi tidak dengan hari ini. Setelah soal dibagi, mereka sudah komplain, "Lho, Miss, ini udah pernah kemarin." Aku yang hanya sekedar "ibu tiri" mana tahu. Akhirnya aku tetap suruh mereka mengerjakannya, tentunya dengan cara dan peraturan yang aku buat. Ternyata cukup mudah menghadapi mereka. Pada dasarnya memang mereka anak yang penurut dan tidak resek. Satu jam berlalu, pembelajaran berakhir. Ada satu hal yang membuatku... tak percaya. Setelah aku tutup pelajaran dan berkata "See you next week with Miss Nana", ada satu anak yang tidak pulang dan tetap ikut pelajaran kelas 5. Entah karena malas pulang, memang ingin belajar, atau tak ingin berpisah denganku. Haha, mana tahu apa yang dipikirkannya?

Kelas 5 hanya satu anak yang datang, ditambah satu anak kelas 4 yang ikut belajar. Ternyata dia cukup mengerti pelajaran kelas 5, malah lebih pintar. Baru setengah jam berjalan, anak kelas 6 berdatangan dan itu cukup mengganggu karena suara mereka yang cempreng dan dengan volume maksimal. Untung tidak berlangsung lama. Jam belajar untuk kelas 5 selesai.

Aku menghela napas. Hhhh... Betapa aku tidak nyaman dengan anak-anak kelas 6 ini. Terutama yang bernama Mustika dan Puput. Mustika adalah anak yang sangat mendewakan "ibu kandungnya". Apa yang aku lakukan selalu dibandingkan dengannya. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Aku juga tidak ambil pusing sekalipun dia tidak pernah memperhatikan penjelasanku. Hanya "anak tiri". Dan Puput, tak terlalu jauh berbeda dengan Mustika, dia juga tidak pernah memperhatikan penjelasanku, tapi setidaknya dia mau mengerjakan soal dengan pikirannya sendiri. Jam 5 sore, aku menghela napas lega. Selamat tinggal anak-anak tiri sementara. Senang lepas dari kalian.

Menggantikan orang lain memang tidak mudah. Terlebih jika yang kondisi yang digantikan memang sangat berbeda dengan yang biasa ku rasakan. Jika aku punya peraturan, dia pun demikian. Tentu saja peraturan kami berbeda. Dan perbedaan itu membuat Si Variabel Terikat bereaksi.

"Lho, kok mejanya gak diberesin?"
"Lho, kok bintangnya cuma satu? Biasanya tiga."
"Lho, kok dapatnya bintang biru? Harusnya merah."
"Miss Nana kapan pulang?"
"Lho, kok itu jadi gitu?"

Dan lha lho lha lho lainnya. Bikin eneque. Apa yang "ibu kandungnya" katakan selalu didewakan meskipun itu salah. Tak heran mengapa selama ini ibu tiri selalu digambarkan jahat di beberapa sinetron dan fairy tale. Mungkin bukan ibu tiri yang jahat, mungkin anak tiri lah yang keterlaluan. Mungkin. Kita tidak pernah melihat dari sisi ibu tiri, kan?

Ikan lele pindah dari satu daratan ke daratan lain. Jadi, bagaimana rasanya? "Air, aku butuh air."

Wednesday, 19 October 2016

Apa susahnya, sih?

Kita hidup di jaman di mana grup adalah tempat ngerumpi yang bisa dikunjungi sewaktu-waktu. Ngomongin info yang lagi ngehits, ngomongin hal-hal yang antimainstream, entah hoax atau enggak. Dan yang paling sering nih, ngomongin orang dari screenshot yang didapat dari foto instagram, private message BBM, bahkan chat pribadi dari orang-orang yang dianggap "aneh" dan patut untuk diperbincangkan. Semuanya ada di lambe turah, pemirsa. Dari adanya grup tersebut, entah itu grup whatsapp, BBM, ataupun LINE, tentunya ada sisi asik dan gak asiknya. Asiknya, (1) bisa tau info-info yang kita belum tau, (2) bisa ketawa baca-baca chat dari temen yang lucu-lucu, (3) bisa sok-sokan sibuk ngetik dan bikin smartphone jadi rame, jadi gak keliatan jombs.

Nah, gak asiknya nih, kalo ada temen yang OOT alias out of topic. Misalkan kita lagi ngomongin piknik, lagi bales-balesan, dia dengan watadosnya dateng langsung ngomongin Rappi Amad yang gosipnya mau cerai sama Nakoto Nagano (eh salah, itu nelayan super yang di Ninja Warior deng). Jadi gak asik banget kan? Ngerusak suasana aja.

Ada lagi nih. Jadi situasinya, grup lagi sepi. Terus ada member yang ngirim gambar event gitu, "Eh gaes, dateng ke sini yuk besok, kan malming." Belum juga ada balesan dari member lain, ada aja yang balesnya OOT, "Eh gaes, ada yang punya lipstik purbasari matte nomer 89 gak?" Ih ih... Kan bangke!

Plis deh! Apa susahnya sih, gak OOT?

Wednesday, 12 October 2016

Belajar dari Soraya, kuy!

Apakah kalian bertanya siapa itu Soraya? Soraya adalah orang di balik layarnya Sale Stock. Jadi yang nyapa, jawab pertanyaan-pertanyaan Sista melalui chat, dan neleponin Sista itu namanya Soraya. Aku Soraya, kita Soraya.

Soraya Team Facebook Sore

Friday, 10 June 2016

Review: Maybelline Hypermatte Liquid Liner

Beberapa minggu lalu, aku cari-cari eyeliner. Seperti biasa, malem sebelumnya aku baca-baca review dulu sebelum aku menentukan pilihanku. Pengen repurchase eyeliner pen Silkygirl, tapi gak tau kenapa harganya lagi naik, udah gitu aku bosen sama eyeliner yang ujungnya felt gitu, pengen coba yang brush. Setelah baca-baca review, aha! Aku sudah memutuskan untuk beli liquid eyeliner dari Inez soalnya katanya bagus, hasilnya matte, walaupun harganya cuma sedikit di bawah Silkygirl.

Besoknya...
Ceritanya habis dapet duit gitu, haha.. Jadi pulang-pulang langsung mampir ke Monita. Kalap, ngebeli apa-apa. Yang tadinya cuma mau beli eyeliner tok, jadi nambah refill bedak, dan bla bla bla, liat aja sendiri nih, wkwkwk..


Dan gara-gara mampir ke counter nya Maybelline, hasil pencarianku semalem, yang rencananya mau beli eyeliner Inez, canceled. Setelah liat-liat, coba-cobi, colak-colek berbagai macam eyeliner Maybelline, aku memutuskan buat beli Hypermatte Liquid Liner Maybelline. Kenapa? Karena masih sayang duit banget kalo mau beli Hypersharp, apalagi yang Wingliner. No no, jangan khilaf lagi.
 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang