Sunday, 27 May 2018

Tia

Halo guys.. Gimana puasa? Lancar atau tersendat? Udah bolong berapa hari? Cie, yang di depan umum puasa full, taunya bolong 5 hari. Wkwkwk... Gak lah ya, malu sama umur, udah seperempat abad masa puasa masih bolong-bolong aja. Kecuali yang cewek ya, of course. Hmm, ngomong-ngomong soal puasa dan bulan ramadhan, apa sih momen yang saat ini kalian ingat? Kalo aku sih, bulan ramadhan gini jadi inget 2 tahun lalu... *menerawang*

Aku mulai ketika aku ngabuburit beli gorengan. Karena lama, aku main-main HP. Tiba-tiba ada email masuk, dari Sale Stock, pengumuman yang aku tunggu-tunggu. Langsung deg-degan lah aku. Kira-kira isinya apa ya? "Selamat" kah? Atau justru "maaf"? Aku buka email itu dengan penuh harap, ada attachment di sana. Ku download, dan ku runut satu per satu, adakah namaku di sana? Dan, jeng jeng... ADA. Yeay, seneng banget waktu itu. "Maaaak, anakmu gak pengangguran lagi. Anakmu mau merantau ke Jogja mak!" Singkat cerita, berangkatlah aku ke jogja. Udah cari kos sejak minggu lalu, bahkan sebelum pengumuman. Optimis banget kan gueh?

Edisi Soraya Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri

Saturday, 10 February 2018

Valentine's Day

Yuhuu.. Anyone here? Baru muncul lagi nih setelah sekian lama. Rasanya kaku banget mau mulai nulis lagi. Gimana ini cara nulisnya? Gimana caranya berbahasa? Gara-gara ada yang minta postingan tentang "Apa yang harus dilakukan ketika Whatsapp-mu cuma di-read?" aku jadi kepikiran buat ngeblog lagi. Yes, ngeblog. Di saat orang lain, bahkan anak SD aja udah pada nge-vlog, here I am. I am blogging. Karena yaa, you know lah, aku tak cukup berani untuk mengkadapi sang kamera. Hahaha... Ada sih, satu video yang aku upload di youtube. Video traveling ala-ala gitu deh, yang kejadian akhirnya akan membuatmu tercengang. Wkwkwkwk... Okay, jadi mau posting tentang apa kali ini? Right, VALENTINE'S DAY.

They say, "Hush, gak boleh ngerayain valentine. Dosa!" Lho lho lho... Memangnya aku ngapain, kok dosa? Makanya baca dulu, baru nge-judge.

Wednesday, 28 June 2017

Mudik yang Tak Terlupakan

Sebelumnya, aku mau ngucapin selamat hari raya idul fitri, maaf lahir batin buat semuanya ya. Karena pasti sadar gak sadar, aku sering ada salah sama kalian. Gimana lebarannya? Apakah sudah kembali ke ukuran semula (sebelum puasa)? Hahahaha.. Mudik ke mana, btw? Oh, di rumah aja ya? Cyan. Semoga lebaran tahun depan bisa mudik ke rumah mertua ya. Hahahaha..

Keliatan seneng banget ya? Iya nih, soalnya lebaran dan mudik tahun ini beda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya, gak mudik. Dua tahun sebelumnya, aku mudik ke barat. Tapi tahun ini, aku mudik ke timur, habis itu baru ke barat. Mudik kali ini bener-bener gak akan terlupakan.

Friday, 3 March 2017

Ikan Lele dan Ibu Tiri

Bagaimana rasanya menjadi ikan lele yang dipaksa berada di darat terus-menerus? Ya, memang, ikan lele memang masih bisa hidup tanpa air untuk beberapa waktu. Tapi tentunya dia tidak akan bisa hidup jika terlalu lama berada di tempat yang tidak ada air. Jadi, apa jawabannya? Bagaimana rasanya? Coba kita baca cerita Sang Lele yang sedang sekarat.

Sudah dua Jumat ini aku diminta oleh seorang teman untuk menggantikan dia mengajar kelas 4-6 SD di lokasinya. Singkat cerita, mau tidak mau aku terpaksa menerimanya. Jumat minggu lalu, aku mengajar di sana. Anak kelas 4, tidak ada masalah. Meskipun ada beberapa anak yang terlambat karena bermain sepeda sampai lupa waktu. Mereka manis, mudah diatur, penurut, dan terbuka. Dengan materi Reading - My Birthday, satu jam dilalui dengan cepat. Ternyata mereka termasuk murid-murid yang pandai.

Satu jam berikutnya, kelas 5. Hanya satu anak yang datang, tapi kemudian satu anak menyusul setelah setengah jam pelajaran berlalu. Alasannya klise, ketiduran. Tidak terlalu mengganggu proses pembelajaran, hanya saja aku harus mengulang dengan cepat apa yang telah dia lewatkan agar anak yang tidak terlambat juga tidak terganggu dengan keterlambatan anak satunya. Satu jam berlalu dengan ketenangan.

Jam terakhir, kelas 6. "Hanya satu anak? Padahal katanya tiga belas. Bagus lah, fewer is better." Tapi tak berapa lama segerombolan anak perempuan datang. Satu anak berceletuk, "Yah, dudu Miss Nana." Ekspresi yang sudah ku prediksi sebelumnya. Singkat cerita, aku tidak terlalu suka dengan anak-anak kelas 6 ini.

Jumat kedua, hari ini. Ada insiden nyasar, tapi tidak terlalu menghambat. Kelas 4 memang dari minggu sebelumnya tidak ada masalah. Tapi tidak dengan hari ini. Setelah soal dibagi, mereka sudah komplain, "Lho, Miss, ini udah pernah kemarin." Aku yang hanya sekedar "ibu tiri" mana tahu. Akhirnya aku tetap suruh mereka mengerjakannya, tentunya dengan cara dan peraturan yang aku buat. Ternyata cukup mudah menghadapi mereka. Pada dasarnya memang mereka anak yang penurut dan tidak resek. Satu jam berlalu, pembelajaran berakhir. Ada satu hal yang membuatku... tak percaya. Setelah aku tutup pelajaran dan berkata "See you next week with Miss Nana", ada satu anak yang tidak pulang dan tetap ikut pelajaran kelas 5. Entah karena malas pulang, memang ingin belajar, atau tak ingin berpisah denganku. Haha, mana tahu apa yang dipikirkannya?

Kelas 5 hanya satu anak yang datang, ditambah satu anak kelas 4 yang ikut belajar. Ternyata dia cukup mengerti pelajaran kelas 5, malah lebih pintar. Baru setengah jam berjalan, anak kelas 6 berdatangan dan itu cukup mengganggu karena suara mereka yang cempreng dan dengan volume maksimal. Untung tidak berlangsung lama. Jam belajar untuk kelas 5 selesai.

Aku menghela napas. Hhhh... Betapa aku tidak nyaman dengan anak-anak kelas 6 ini. Terutama yang bernama Mustika dan Puput. Mustika adalah anak yang sangat mendewakan "ibu kandungnya". Apa yang aku lakukan selalu dibandingkan dengannya. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Aku juga tidak ambil pusing sekalipun dia tidak pernah memperhatikan penjelasanku. Hanya "anak tiri". Dan Puput, tak terlalu jauh berbeda dengan Mustika, dia juga tidak pernah memperhatikan penjelasanku, tapi setidaknya dia mau mengerjakan soal dengan pikirannya sendiri. Jam 5 sore, aku menghela napas lega. Selamat tinggal anak-anak tiri sementara. Senang lepas dari kalian.

Menggantikan orang lain memang tidak mudah. Terlebih jika yang kondisi yang digantikan memang sangat berbeda dengan yang biasa ku rasakan. Jika aku punya peraturan, dia pun demikian. Tentu saja peraturan kami berbeda. Dan perbedaan itu membuat Si Variabel Terikat bereaksi.

"Lho, kok mejanya gak diberesin?"
"Lho, kok bintangnya cuma satu? Biasanya tiga."
"Lho, kok dapatnya bintang biru? Harusnya merah."
"Miss Nana kapan pulang?"
"Lho, kok itu jadi gitu?"

Dan lha lho lha lho lainnya. Bikin eneque. Apa yang "ibu kandungnya" katakan selalu didewakan meskipun itu salah. Tak heran mengapa selama ini ibu tiri selalu digambarkan jahat di beberapa sinetron dan fairy tale. Mungkin bukan ibu tiri yang jahat, mungkin anak tiri lah yang keterlaluan. Mungkin. Kita tidak pernah melihat dari sisi ibu tiri, kan?

Ikan lele pindah dari satu daratan ke daratan lain. Jadi, bagaimana rasanya? "Air, aku butuh air."

 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang