Tuesday, 18 January 2011

Khayalan Dua Raga

Ini adalah cerita tentang seorang anak perempuan yang pengen punya dua kepribadian, dua raga, dalam dirinya. Dila, begitu dia dipanggilnya, adalah anak yang suka mengkhayal. Mengkhayal yang tak mungkin. Dia selalu berpikir, gimana kalo dia punya dua raga yang berbeda. Dia pengen jadi dirinya yang sesungguhnya, tapi di sisi lain, dia pengen jadi orang lain yang sangat berbeda dengan dirinya.

***

"HAH?! Jam delapan??" Jerit Dila kaget, karena ada kuliah jam 8.40. Dia langsung mandi cepet-cepet, lalu berangkat naik motor dengan kecepatan tinggi, sambil nyanyi. Kok masih sempet-sempetnya ya? di tengah perjalanannya, dia gak tau kalo ada anak nyebrang. Langsung dia rem, dan, selamat, belom nabrak, hampir menyentuh. Speechless. Sejak kejadian itu, dia berpikir.

"Kalo aku tadi jadi nabrak tuh anak, apa yang akan aku lakukan? A. Kabur, B. Tanggung jawab. Kalo aku tanggung jawab, pasti aku kalah. Soalnya gak bakalan ada saksi yang belain aku. Apa mungkin ya, aku bisa menciptakannya? Aku pengen punya dua raga. Seorang aku, dan seorang bukan aku. Mungkin dengan begitu, si Bukan Aku bakalan belain aku kalo ada masalah kayak tadi. Tapi apa mungkin?"

Sejak saat itulah, Dila berpikir untuk mempunyai dua raga. Setiap kali ada kejadian yang memungkinkan, dia selalu mengkhayal tentang Khayalan Dua Raga nya. Anak yang aneh.

***

Seperti biasa, saat pergantian jam Dila hanya duduk-duduk bersama teman-temannya, sambil bercanda pada setiap orang yang lewat. Dia melihat berbagai macam orang, ada yang pendiam, ada yang bawel. Lalu dia mulai berpikir lagi.

"Aku ini kenapa cerewet banget sih? Perasaan, dulu aku orangnya pendiem, kalem. Kok sekarang jadi gini ya? Dulu aku kayak mbaknya itu, kalem, pendiem. Hmm, gak penting lah aku kayak gimana. Yang penting aku tetaplah aku. Tapi, aku kok jadi kangen aku yang dulu ya? Gimana ya rasanya, kalo aku masih pendiem? Coba aku bisa berubah wujud, atau merasakan jadi orang lain."

***

"Kenapa ya, akhir-akhir ini aku sering mengkhayal tentang hal seperti itu? Aku tau, itu gak mungkin. Aku gak mau jadi orang gila yang kerjaannya cuma ngayal. Please, pergi dari pikiranku sekarang! Aku gak mau gila!"

***

Beberapa hari berlalu. Dila udah gak pernah ngayal lagi belakangan ini. Tapi dia mulai ngayal lagi pas abis pengumuman remedial Teknik Laboratorium, yang baginya susah banget. Jam 10 dia dateng ke kampus buat perbaikan. Dia sama temen-temennya udah nunggu sampe siang, jam 12an. Temen-temennya belajar, dia enggak. Saking desperatenya, anak-anak yang gak jelas asal usulnya tujuannya mau ke mana itu akhirnya masih nunggu dosen yang katanya mau dateng jam 10 itu. Akhirnya semua naik ke atas, menuju ke sebuah ruangan, horor. Semua anak pada ngeluh kenapa tuh dosen gak dateng-dateng. Lalu ada salah satu anak yang bilang, "Kalo kalian mau pulang ya gak apa-apa. Terserah, kalian milih pulang, apa bikin orang tua sedih." Maksudnya????
Beberapa menit kemudian, si pak dosennya dateng. Deg deg, deg deg. Rasanya kayak mau mati. Bacain nilai A, B, C aja kayak nunggu nyawa diambil. Ampun, deg degan sumpah.
Finally, "Dila, nah ini dia..." Hening. "C!!" JLEB! "Alam baka, I'm coming." Jerit Dila dalam hati.

"Kan. Aku remed. Ya iya lah aku remed. Kemaren pas UK terakhir aku jawabnya berapa lembar? Cuma 2 lembar kan. Jadi gak usah nyesel kalo aku remed. Aaaahh, aku benci ini. Kenapa harus remed. Ikut remed gak ya? Aku takut nilaiku jadi tambah jelek. Aku sama sekali gak belajar. Kalo gini caranya, aku sama aja gak bisa ngerjain. Coba aku punya orang lain yang lebih pinter dari aku. Terus dia gantiin aku remed. Udah pasti lah aku lulus. Bisa dapet A juga kali. Ah, ya ampun. Tamatlah riwayatku."

***

To be continued. . .

1 comments:

 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang