Thursday, 17 January 2013

Siapa Saya?

Nama saya Dhian Utami. Saya hidup di dunia ini sudah lebih dari 19 tahun lamanya. Dengan umur saya yang sebanyak itu, seharusnya saya bukan anak remaja lagi, bukan? Ya, seharusnya. Terkadang saya memang bijak layaknya kebanyakan orang-orang di usia tersebut. Tapi kenyataannya, saya tidak selalu seperti itu. Terkadang saya tidak lebih bijak daripada adik saya. Seringkali saya menyesal, mengapa di usia saya ini, saya masih seperti itu. Dan seringkali saya hanya menyalahkan kodrat saya sebagai perempuan, yang sensitif dan mempunyai siklus tersendiri. Entah memang benar atau tidak.

Well, seringkali mereka, teman-teman saya menyangka bahwa saya adalah sosok orang yang kuat, bijak, atau apalah. Karena dengan sok bijaknya, saya berkata-kata seperti apa yang Mario Teguh katakan. Padahal sebenarnya, jika saya dihadapkan pada situasi yang sama, saya tidak yakin dapat melakukan apa yang saya sendiri katakan. Seperti misalnya tentang kesabaran, keikhlasan, kemandirian, mengalah, dan lain-lainnya. Mereka bilang saya bijak. WOW! Padahal kenyataannya, saya hanya seseorang yang lemah, mudah menyerah dan mengeluh.

Tidak hanya itu, saya adalah orang yang sangat sensitif dengan apa yang saya dengar, saya lihat, dan saya rasakan. Terutama dalam hal bahasa. Entah itu bahasa lisan, bahasa tulisan, maupun bahasa tubuh dan wajah. Saya sangat tidak nyaman dengan kata-kata kasar yang diucapkan oleh seorang lelaki kepada perempuan. Saya benci kata-kata ketus dan bossy keluar dari mulut seorang anak untuk orang tuanya, maupun dari seseorang kepada temannya. Anda pikir anda siapa? Ya, walaupun terkadang, saya pun melakukannya juga. Dan saat itulah, saya membenci diri saya.

Saya benci tulisan dengan UPPER CASE. Saya benci kalimat berita dan kalimat perintah dengan tanda seru (!) yang sangat banyak. Saya tidak suka dengan kalimat tanya yang tidak disertai dengan tanda tanya (?). Saya benci pesan singkat yang benar-benar singkat. Saya tidak suka dengan pesan singkat yang tidak disertai kata sapaan. Saya tidak suka membaca tulisan yang tidak ada emosi di dalamnya. Saya tidak suka kata maaf yang ditulis tidak dengan sepenuh hati. Dan saya benci kepada emotikon senyum yang ditulis untuk saya tidak dengan senyum yang sebenarnya. Saya adalah seseorang yang SANGAT SENSITIF dengan yang namanya EMOTIKON. Saya sangat berhati-hati dalam menggunakan emotikon. Karena menurut saya, emotikon benar-benar mencerminkan emosi dari seseorang yang menulisnya. Semua emotikon yang saya tulis, adalah dari hati saya sehingga saya pun menganggap semua emotikon yang bertebaran di luar sana, baik itu untuk saya maupun bukan, juga dari hati seseorang yang menulisnya. Walaupun mungkin kenyataannya tidak selalu demikian. Anda pikir saya sok perfect? Terserah.

Saya benci pada ekspresi yang dibuat-buat. Senyum palsu, air mata buaya, saya juga benci itu. Anda pikir hidup saya penuh dengan kebencian? Boleh juga. Semoga anda tidak bercita-cita menjadi seseorang yang saya benci. Sekian.

3 comments:

  1. "Well, seringkali mereka, teman-teman saya menyangka bahwa saya adalah sosok orang yang kuat, bijak, atau apalah. "

    aq r tau mikir kyo ngnu wie kayane :p

    ReplyDelete
  2. Tapi setidaknya anda mampu membuat nya samar, tidak dengan saya yang lemah namun tetap terlihat lemah... seperti debu yang sangat rapuh,


    "Saya benci kata-kata ketus dan bossy keluar dari mulut seorang anak untuk orang tuanya, maupun dari seseorang kepada temannya. Anda pikir anda siapa? Ya, walaupun terkadang, saya pun melakukannya juga. Dan saat itulah, saya membenci diri saya" ini bagus

    ReplyDelete
  3. Jadi pengen minta dhian gambar pohon, rumah dan orang.

    ReplyDelete

 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang