Wednesday, 11 December 2013

Mitos Sapi Bule

Kali ini aku mau cerita mitos. Ya, agak serem memang. Buat yang gak punya nyali, mendingan pencet tombol close aja daripada nanti pipis di celana.

Jadi, cerita ini aku alami ketika aku masih SD. Yaa, sekitar kelas 2-3 lah. Jaman aku SD dulu, belum ada yang namanya angkot. Maklum, rumahku memang di desa yang terkenal pelosok... dan angker. FYI aja, sejak SD aku udah keluar kota sendirian. Kok bisa? Secara, rumahku Karanganyar, sekolahku di Surakarta. Gimana? Hebat, bukan? Oke kita lanjutkan ceritanya. Karena belum ada angkot masuk desa, makanya tiap berangkat sekolah, aku dianterin. Pulangnya, jalan kaki bareng pacar temenku masa itu, sebut saja namanya Komeng. Gimana gak hebat coba? Surakarta ke Karanganyar jalan kaki mamen! (Sebenernya sih cuma Pelangi - Plesungan. :p)

Anggep aja ini aku sama Komeng.
Fokus! Kita hampir tiba di bagian seremnya.

"Meh lewat ngendi ki?" tanya Komeng yang sepertinya udah bosen lewat jalan yang udah mainstream.
"Eh, nyobo lewat kene yok! Kayane luweh cedak, iyup sisan." aku memberi ide dengan girangnya. Seperti menemukan hutan di padang pasir, langsung aja kita memasuki hutan (beneran kayak hutan, soalnya rimbun banget) yang ternyata...


"Lho, kok sawah? Lewat ngendi iki? Meh mbalik kadohan." tanyaku penuh heran, karena ternyata jalan buntu.
"Wah... Yowes lah, terpaksa. Lewat pinggir kene wae." ujar Komeng sembari menunjuk tepian sawah yang penuh dengan tanaman padi yang masih hijau.
"Ngawurmu! Seneni seng nduwe mengko." kataku takut. Lalu kami berdua melanjutkan perjalanan dengan menginjak-injak beberapa tanaman padi tersebut. Dan...

"Woy! Ngopo lewat kono? Ngidak-idak pariku! Hush-hush!" tiba-tiba sang pemilik sawah datang dan marah-marah, seperti yang sudah kuduga. Dan kami berdua hanya bisa, "Eh-anu" seperti bocah kebelet eek. "Pisan ngkas lewat kene, tak pacul kowe!" lanjut si pemilik sawah dengan mengangkat cangkul yang dibawanya. Mendengar kata-kata itu, kami pergi tanpa sepatah kata pun. Yang ada hanya nyali yang tiba-tiba menciut.

Besoknya...

"Pie ki? Mengko lewat ngendi meneh? Wedi aku wingi kae." Aku membuka percakapan di sela pelajaran waktu itu. Aku masih terngiang-ngiang oleh ucapan si pemilik sawah.
"Ah, payah. Yowes lah, lewat dalan biasane wae," kata Komeng yang sepertinya sama sekali tak menunjukkan rasa takut. "Aku yo wedi og." lanjut Komeng. Ternyata.

Bel pulang berbunyi. Dan inilah petualangan yang menyeramkan dimulai. Seperti biasanya, kami berdua jalan kaki dengan gembira. Dan seperti biasanya pula, saat Komeng mulai lelah berjalan, dia meletakkan tangannya di tas punggungku yang semakin lama semakin berat kurasakan. "Hish! Singkirno tanganmu!" kataku sambil melirik tajam ke arahnya. Dia hanya nyengir dengan wajah anehnya.

Tak berapa lama, kami sampai di sawah yang biasa kami lewati. Bukan, bukan sawah hutan jalan buntu waktu lalu. Sawah yang ini, punya sesuatu yang sangat kami hindari. Guess what! Bukan hantu, juga bukan pemilik sawah yang kejam. Tahu apa? SAPI BULE! Iya, sapi bule, sapi yang berkulit putih, dan matanya merah. Setibanya di "pintu masuk" sawah...
"Heh, ngopo mandeg?" tanyaku keheranan karena Komeng berhenti mendadak. Sepertinya ada yang gak beres.
"Sssstt, kui lho," jawab Komeng setengah berbisik sambil menunjuk-nunjuk sesuatu. "Ono sapi bule." lanjutnya.
"Hah, pie noh?" Aku mulai panik.

Sebentar, kalian pasti bingung, kenapa sama sapi bule aja takutnya setengah mati. Padahal kami belum pernah diseruduk sama sekali. Jadi, menurut kepercayaan orang-orang kampung sini... Eh bukan deng. Sebenernya ini adalah kepercayaan konyol kami berdua. Jadi si sapi bule ini, kalo liat sesuatu yang berwarna merah, dia bakalan marah dan menyeruduk sesuatu yang berwarna merah tersebut. Oleh karena kami berdua anak SD, yang mana warna rok/celana kami adalah merah, maka dari itu, sapi bule adalah monster bagi kami. Jadi bagaimanakah kami bisa melewati sawah yang ada sapi bulenya tersebut? Simak lanjutan ceritanya...

"Ha! Aku punya ide!" Komeng berkata dengan keyakinan penuh, lengkap dengan mukanya yang menyeringai bak serigala licik.
"Pie? Cepet!" kataku yang sudah tak sabar. Bukannya tenang, aku justru semakin panik.
"Copot sek wae lah celana ne." kata Komeng dengan polosnya. Entah memang itu anak polos, atau hanya sekedar kamuflase untuk menutupi otak busuknya. Spontan aku menjitak kepalanya. "Haish!"
"Ngene wae," aku menyuarakan ideku yang sangat brilian. "Gowo rene tasmu! Nah, awake dewe mlaku alon-alon, karo nutupi rok nganggo tas."
"Wah, kok kowe pinter? Hahaha..."

Lalu kami berjalan mengendap-endap sambil menutupi warna merah yang ada dengan menggunakan tas. Dan, dengan selamat sentausa, hal tersebut menghantarkan kami berdua ke depan "pintu keluar" sawah yang ada sapi bulenya yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa. Yeay!

Begitulah cara kami melawan mitos sapi bule yang kami percayai. Tamat.

2 comments:

 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang