Thursday, 20 February 2014

Cemburu Itu Relatif

Kata orang, cantik itu relatif, tapi kalo jelek itu mutlak. Entahlah, kata-kata itu begitu sulit untuk aku cerna. Mungkin karena aku gak punya enzimnya. Dan setelah aku pikir-pikir, cemburu itu juga relatif. Dan kali ini aku mencerna pemikiranku sendiri. "Cemburu itu relatif." (Dhee, 2012) Aku tau, banyak dari kalian yang berpikir, "Kok bisa? Ya enggak lah! Bla bla bla bla..." But this is IMHO. Dan di sinilah, "kok bisa" ini beralasan.

Misal cerita, Ruth adalah seorang cewek. (FYI) Dia lagi pedekate dan dipedekatein sama cowok, sebut saja namanya Komeng. Ruth ini anaknya baik hati dan suka menolong. Selain itu, Ruth juga rajin menabung dan selalu ceria. Tapi, di balik sifat-sifat baiknya itu, Ruth adalah orang irian. Bukan, bukan orang Irian Jaya. Irian di sini, maksudnya orang yang suka iri. Ya, bisa dibilang cemburuan. Sebaliknya, Komeng itu sifatnya seperti benda cair, bentuknya selalu menyesuaikan bentuk wadah/tempatnya. Dalam kamus Komeng, gak ada kata cemburu. (entah analoginya tepat apa enggak)

Suatu ketika, pas Ruth lagi kepo timeline facebooknya Komeng, dia menemukan sesuatu yang pedih di mata, eh ternyata matanya kelilipan. Maksudnya, kelilipan wallpost-nya (sebut saja namanya) Devi, yang kayaknya juga lagi deket sama Komeng. Iya, Ruth udah baca postinganku yang Tips Main Hati, makanya dia tau, dia harus kepo dulu sebelum melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Lanjut, habis baca itu semua, Ruth jadi galau. Tapi dia diem aja, gak langsung nyindir Komeng ataupun Devi. Alesannya sih simpel, biar Komeng sadar sendiri. Eh tapinya, si Komeng gak sadar-sadar. Ya iya lah, namanya juga Komeng, di kamusnya kan gak ada kata "cemburu".

Nah terus, apa hubungannya sama "cemburu itu relatif"? Hehem, jadi gini lho... Menurut Ruth, wallpost-nya Devi itu bikin cemburu. Sedangkan menurut Komeng, biasa aja. Selanjutnya, dapat Anda simpulkan sendiri.

- o -

Sebenernya, ini sih postingan tahun 2012 yang belum lulus sensor alias masih draft. Gegara PROSTAD mentok ditambah bosen dikali galau dikuadratin, jadi iseng buka-buka post lama, eh nemu ini. Asal muasal dibuatnya tulisan di atas, kayaknya itu pas dulu masih jamannya jeles-jelesan gitu deh...

Oh ya by the way, heran deh. Belakangan ini rasanya kayak susaaaah banget buat nulis. Sekalinya nulis, pasti gak jelas, galau, sedih-sedihan. Duh, gak saik nih!

Thursday, 13 February 2014

Roller Coaster

Aku bukanlah orang yang pandai menikmati hidup. Aku pun bukan orang yang selalu bisa mengatasi permasalahan hidup. Tapi aku cukup tahu pola hidup. Ya, cukup. Ibarat...

Hidup. Hidup itu seperti roller coaster. Ada tanjakan, turunan, jungkir balik, tikungan tajam, dan kemiringan yang beragam. Pertama kali aku menaikinya, aku menangis. Ketiga kalinya, aku berteriak. Kelima kalinya, aku hanya terdiam.

Hidup. Hidup itu seperti... Seperti inilah hidup. Sekali dibanting, dia menangis. Tiga kali dibanting, dia sedih. Lima kali dibanting, dia diam tak peduli.

Hidup. Hidup adalah perjalanan. Salah satunya adalah hati. Perjalanan hati ibarat berjalan di dalam labirin. Tidak tahu kapan akan menemui apa. Tak dapat ditebak, kecuali jika melihatnya dari atas.

Hidup. Tertawa, menangis, tersenyum, bersedih, marah, bingung, takut. Terkadang semua itu terjadi tanpa sebab. Tiba-tiba menangis tanpa alasan. Lalu tertawa dua menit kemudian.

Betapa konyolnya aku, bicara tentang hidup. Memangnya siapa aku ini?

 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang