Friday, 11 April 2014

Duri dalam Daging

Duri dalam daging. Sahabat, pernahkah kamu mendengar perumpamaan itu? Tahukah kamu makna dari perumpamaan itu? Jika daging itu punya perasaan, pasti dia merasa sakit karena adanya duri itu. Baiklah, karena aku juga tidak terlalu tahu maknanya, bolehlah aku mengartikannya sebagai: merasa sakit karena sebuah uneg-uneg. Bisa dikatakan, seseorang yang tidak bisa mengungkapkan apa yang ingin dia katakan atau ceritakan maka dia akan merasa sakit. Sakit di sini bisa berbentuk sedih, marah, atau perasaan tak menentu atau galau.

Sahabat, aku sudah berkali-kali merasakan perumpamaan itu. Bagaimana aku merasakan sesuatu, dan tidak ada tempat untuk menuangkannya hingga berlarut-larut dan hilang dengan sendirinya. Namun tidak hilang semudah itu. Dalam perjalanan hilangnya duri itu, aku selalu merasakan sakit, benar-benar seperti ada duri di dalam dagingku. Dan itu tidak benar-benar hilang lenyap tak berbekas, Sahabat. Ketika pikiranku kosong, semua duri-duri itu muncul kembali.

Sahabat, aku tidak mau lagi merasakan ada duri di dalam dagingku. Oleh karena itu, aku akan mengirim surat untuk menceritakan apa yang ingin aku ceritakan. Aku harap, kamu tidak keberatan untuk membaca setiap ceritaku yang akan sangat panjang.

Sadly,
Dhee.

Wednesday, 9 April 2014

Dhee in Strange Land

Belakangan ini, dalam mimpiku aku sudah dua kali berkunjung ke tempat yang tidak aku kenal. Tempat yang sepertinya belum pernah aku datangi. Namun aku seperti tak ingin bangun dan ingin terus berada di alur cerita dalam mimpiku itu. Seakan aku bisa mengendalikan kapan aku akan bangun dan meninggalkan kehidupanku di alam mimpi.

Malam itu, tepatnya tanggal 8 April malam, aku tidur pukul 10 malam. Waktu yang bisa disebut dini untuk tidur. Mugkin karena pagi hariku dimulai dengan sebuah tangisan dan siang hingga sore yang ku habiskan untuk menunggu. Tak butuh waktu lama untuk memejamkan mata dan masuk ke dunia mimpi. Tiba-tiba aku berada di suatu tempat. Seperti diajak oleh seseorang ke kampungnya, tapi mirip seperti tempat kelahiranku. Cerita ini bermula saat dia, seseorang yang mengajakku ke tempat ini, sebut saja Komeng, pergi sebentar dan meninggalkanku di jalan. Karena aku bosan, aku berjalan-jalan di dekat tempatku menunggunya, yang kebetulan adalah sebuah gang yang tidak kecil namun juga tidak besar. Di gang itu ada sebuah rumah dengan sebuah ayunan di depannya. Ayunan itu mempunyai dua tempat duduk berhadapan, yang salah satu kursinya diduduki oleh seorang anak perempuan yang sepertinya seumuran denganku. Saat aku melihatnya, aku seperti sudah lama mengenalnya. Lalu aku mendekatinya dan duduk di depannya. Tanpa perkenalan, tanpa izin, dan tanpa berkata-kata, aku mengayunkan ayunan itu. Anak perempuan itu diam saja, dia menatapku dengan tatapan aneh. Tak lama kemudian aku pergi. Aku ingin bercerita pada Komeng tentang anak perempuan tadi, namun aku urungkan.

Aku masih penasaran dengan anak itu. Hari berikutnya, aku sengaja melewati rumah anak itu. Ternyata dia masih duduk di ayunan. Aku sempat berpikir, mungkin anak itu sedang libur, atau tidak punya pekerjaan. Kemudian aku mendekatinya, namun kali ini aku memperkenalkan diri dan meminta maaf atas kejadian kemarin. Ternyata dia tidak mengingatnya. Tak berapa lama, kami menjadi akrab seperti teman lama yang baru saja bertemu kembali, namun sepertinya dia adalah anak yang pendiam. Kami saling bertukar nomor telepon dan akun sosial media, lalu aku bertanya apakah dia punya blog, dan dia menjawab tidak. Lama kami bercerita dan dia bercerita tentang dirinya, ternyata dia sakit parah dan divonis umurnya sudah tak lama lagi. Perasaanku campur aduk, bagaimana bisa aku baru saja menemukan teman baru yang perasaanku mengatakan bahwa dia adalah teman lamaku, dan tidak lama lagi aku akan kehilangan dia untuk selamanya. Dengan hati yang hancur dan bibir yang tersenyum aku berjanji padanya bahwa aku akan selalu ada untuknya. Lalu aku pamit pulang, ke tempat Komeng tentunya.

Esok harinya, aku ternyata tidak bisa menemuinya karena suatu urusan yang tidak bisa ku tinggalkan. Aku sangat merasa bersalah. Tak kusangka ternyata ketidakhadiranku membuatnya sangat sedih. Ibunya menemuiku dan memarahiku. Dia berkata aku tidak menepati janjiku, dan aku yang kemarin membuatnya bahagia, kini justru membuatnya semakin sedih. Aku meminta maaf padanya, namun dia tetap bersedih.

Aku sedih karena telah mengecewakannya. Namun aku senang, karena ini pertama kalinya ada seseorang yang sangat menantikan kehadiranku. Kemudian aku terbangun dan menyadari ternyata itu hanya mimpi.
 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang