Monday, 16 June 2014

Kalian Adalah Misteri

Setiap orang datang dan pergi dari hidup kita. Terkadang aku merasa seperti sebuah rumah singgah sementara. Seseorang menghampiriku, tidak tentu berapa lamanya. Kadang sekejap, lalu ia pergi. Kadang sebentar, namun sempat menyisakan jejak. Kadang pergi kembali-pergi kembali berulang-ulang, tanpa esensi. Tapi aku percaya, orang-orang itu suatu saat pasti akan berperan dalam kehidupanku. Jika aku kertas, mereka mungkin sebagai pensil, penghapus, pensil warna, bahkan gunting. Mereka adalah misteri. Seseorang yang pada awalnya kita anggap kawan, suatu saat bisa jadi lawan. Begitupun sebaliknya.

- F R I E N D S H I P -

Sebagian besar mereka yang hingga kini aku anggap sebagai kawan, dulu aku tak menyangka akan menjadi kawan. Bahkan aku tidak begitu suka. Begitupun sebaliknya. Yang awalnya aku anggap sebagai teman, ternyata tidak seperti ekspektasiku. Sebut saja namanya Tia. Dia adalah salah seorang teman waktu aku masih di LIA. Pada awalnya, dia adalah orang yang ramah, lucu, dan disukai oleh teman-teman yang lain. Aku pun menganggapnya sebagai temanku, teman dekatku. Namun seiring waktu, seiring kenaikan level, dia mulai menampakkan sisi lainnya sehingga membuatku tidak respek lagi padanya. Semua orang yang sudah mengenalnya sejak masih EL-2 juga mulai ilfeel. Dan teman-teman baru pun menganggapnya sebagai (maaf) kuman. Aku yang sempat mengenalnya saat dia masih "baik", melihat perubahan itu. Dia yang dulu aku anggap teman, sekarang bukan lagi.

Lain cerita, sebut saja namanya Sindi. Waktu itu EL-4, dia baru masuk LIA. Kesan pertama kenal dia, aku tidak terlalu suka sama dia karena terlalu banyak bicara. 3 bulan berlalu, kita pun naik level IN-1, di mana kita (anak-anak penghuni ruang 307) dipindah-gabungkan dengan anak-anak ruang 205. Karena itu, kita yang merasa senasib sepenanggungan menjadi seperti keluarga. Dan artinya, aku yang dulu tidak terlalu suka dengan Sindi, jadi teman dekat dan mendirikan sebuah geng bernama SANCHEZ bersama Anita dan Etika. Cerita lengkapnya bisa dilihat di sini. Tapi dari teman-teman yang lain, aku yang paling deket sama Sindi. Beberapa kali aku main ke rumahnya, membuat barang-barang dari flanel, berwisata kuliner, atau sekedar menggosip. Aku ingat suatu hari, aku ke rumahnya dan sepanjang hari kita hanya menggosip. Waktu itu, dia sedang naksir teman sekelasku yang juga les di LIA tapi beda level. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada (sebut saja namanya Krisna). Lebih tepatnya jatuh cinta diam-diam. Entah kita sedang membicarakan apa sampai dia berkata seperti ini. Sumpah, ini geli banget. Demi apapun, aku tidak seperti ini. Setelah kamu membaca ini, tolong jangan berpikir yang aneh-aneh tentang aku. Deal? Oke, jadi Sindi berkata seperti ini, "Nek aku lesbi yo aku milih kowe." Lalu dia ngakak sampai minggu berikutnya. Dan aku muntah sampai tahun berikutnya.

Setelah level HI-2, aku, Sindi, dan Etika tidak lagi melanjutkan les. Karena itu, kita jadi jarang sekali bertemu tapi masih keep in touch baik via sms dan facebook. Karena jarak itulah, aku tahu. Dari semua anggota SANCHEZ, hanya Sindi yang masih rajin menyapa. Ternyata sampai sudah masuk kuliah pun dia belum bisa move on dari Krisna karena mereka satu kampus. Lalu kita bercerita-cerita, dia dengan kegalauannya, dan aku dengan my-crush kala itu. Sampai suatu saat, kita sama-sama sibuk dan jarang komunikasi. Saat aku mulai kangen dengan curhatannya yang selalu menggebu-gebu, dengan sms-nya yang selalu penuh 160 karakter, aku sms dia. Tidak terkirim. Aku mencoba menelponnya, ternyata nomornya tidak aktif. Aku buka facebooknya, tapi rupanya dia jarang membuka facebook. Dan kemarin, setelah selesai aku penelitian, aku ke rumahnya, berharap belum pindah. Yang aku ingat, rumahnya berwarna oranye, sebelah kirinya adalah penjual ikan, dan depannya adalah SD. Ternyata aku masih ingat. Sampailah aku di rumahnya yang tampak lebih rimbun dari sebelumnya, dan bertemu dengan bapaknya. Aku tahu dia pasti masih di Jogja, dan niatku datang ke rumahnya adalah untuk minta nomor HP-nya saja. Yes, I got it. Dan begitulah orang yang dulu aku anggap aneh, lalu kami berteman bahkan sampai sekarang.

Ada lagi, sebut saja namanya Niken dan Sari (nama samaran), anak Biologi 2010. Dulu, waktu upacara di rektorat dan pembagian prodi, mereka adalah orang yang pertama kenalan denganku. "They will be my friend." pikirku. Tapi kemudian ada pengumuman bagi yang membawa motor, harap segera dipindahkan. Lalu aku pergi ke parkiran dan pertemanan kita berakhir sampai di situ. Setelah mulai masuk kuliah, aku jadi tahu aslinya, ternyata mereka seperti itu. Aku merasa tidak cocok dengan mereka. Aku bersyukur dulu aku memindahkan motorku dan berpisah dengan mereka.

First impression is not always a truth. Kebanyakan orang akan jaim pada saat pertemuan pertama. Jadi jangan terburu-buru menilai seseorang dan menentukan dengan siapa kita akan berteman. Orang yang pendiam, belum tentu karena dia memang pendiam. Belum tentu karena dia pemalu. Belum tentu dia tidak bisa diajak seru-seruan. Bisa jadi dia sedang mempelajari orang-orang di sekitarnya. Dan sebaliknya, apakah kamu yakin, orang yang kamu anggap teman adalah seorang teman? Atau hanya sekedar status? Hati-hati.

#temanasu

0 comments:

Post a Comment

 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang