Saturday, 26 December 2015

Masa Kecilku

25 Desember. Tahun 2015 akan segera habis, berganti dengan tahun 2016. Saat ini usiaku sudah lebih dari kepala dua, lebih tepatnya dua puluh dua. Apa sih artinya sebuah angka? Hmm.. bagiku, angka ini sebagai penghitung bahwa aku sudah cukup lama berada di dunia ini. Banyak hal yang aku alami, aku rasakan, selama aku hidup. Mulai saat aku masih belum bisa mengingat, mengerti, sampai sekarang, bahkan nanti saat aku tak bisa mengingat lagi. Maka sebelum itu terjadi, aku akan menuliskannya di sini. Hanya untuk mengingatkan pada diriku sendiri bahwa aku punya masa kecil yang sangat memorable.

Di Sekolah
Aku ingat betul, dulu waktu SD, aku bukan anak yang populer. Aku bukan yang terbaik, namun bukan yang terburuk. Waktu kelas 1 dan 2, aku selalu dapat rangking 2. Tapi entahlah, aku tidak terlalu tau arti rangking jadi sikapku biasa saja. Sampai saat mulai kelas 4, teman sekelasku yang bernama Duani, yang mana selalu rangking 1 menyuarakan perasaan bangganya terhadap diri sendiri karena selalu mendapat rangking 1. Aku, yang sejak kelas 3 rangkingnya menurun jadi sedikit mikir, "Dulu aku juga sering dapat rangking 2." Dari situ aku baru tau arti rangking. Tapi sampai SD berakhir aku tak pernah lagi menjadi nomor 2, apalagi 1.

Dibully
Ketika SD, aku bukan orang yang punya banyak teman. Kebanyakan temanku adalah mereka yang aku kenal karena saat TK kami satu sekolah, juga Toni yang notabene adalah tetanggaku. Tapi saat kelas 1, karena mereka (teman-teman TK ku) selalu ditunggu oleh ibunya, sedangkan aku tidak, jadi ke mana-mana aku sendiri. Aku tidak populer, akupun tidak punya geng. Sempat waktu itu aku merasa terintimidasi oleh 3 anak, yang belakangan aku tau namanya Duani, Niken, dan Heni, mereka sepertinya satu geng. Entahlah. Mereka kenal dengan kakak kelas yang akupun tidak tau mengapa dia terlihat sangat benci denganku. Pernah aku "dilabrak" tapi aku tidak takut. Aku baca bet namanya N I N G S I H. Lalu dengan santai aku berkata, "Jenengmu Ningsih to?" Tidak tau, apa yang membuatku berkata demikian, namun aku berharap dia kagum dengan kemampuan membacaku (karena waktu itu aku kelas 1) dan dia berhenti menatapku dengan tatapan meremehkan. Rupanya berhasil. Mereka, Duani, Niken, Heni, dan ketua gengnya, Ningsih, enyah dari hadapanku.

Tuesday, 15 December 2015

Review Novel Kokeshi

Beberapa hari yang lalu, aku jemput ibuk pulang ngajar. Anak sholekhah gitu deh ceritanya. Eh taunya, ibuk ngajak ke Gramedia buat beli buku PTK. Sebenernya aku gak terlalu suka ke Gramed (singkatan dari Gramedia), soalnya capek kelamaan berdiri. Kalo mau duduk, harus rebutan tempat dulu sama orang-orang. Pas udah duduk pun, kadang juga gak nyaman karena gerak sedikit aja langsung dipelototin orang-orang yang sok-sokan baca buku psikologi padahal niatnya mau nyerobot tempat duduk. Bener-bener rimba, eat or be eaten. Tapi karena udah lama juga gak ke Gramed, akhirnya aku mau-mau aja. Bukan ide buruk juga. Aku suka kalo liat-liat alat tulis yang lucu-lucu gitu, menurutku itu hiburan. Tapi ternyata, belum sempet liat-liat alat tulis, eh ibuk udah nyeret aja ke lantai 2.

"Hmm.. Mau ngapain nih? Yaelah, buku itu lagi." keluhku, ternyata tatanan bukunya masih sama seperti terakhir kali aku ke sini. Bosen, aku gak pernah betah di Gramed. Lagi-lagi, capeknya itu lho. Dan aku liat juga bakalan susah kalo mau nyerobot tempat duduk, kayaknya mereka (yang lagi enak-enakan duduk) udah pewe banget. Jadi biar cepet, aku bantuin ibuk aja cari bukunya. Tapi gak berhasil, ibuk malah baca-baca dengan santainya. Yaudah, aku keliling aja lah, siapa tau ada novel terjemahan jaman dulu, Never Let Me Go, karena aku penasaran untuk baca novelnya setelah dulu nonton filmnya. Tapi nihil. Aku runut satu-satu, dari cover dan judulnya gak ada satupun novel yang membuatku tertarik. Judge the book by its cover! Soalnya bukunya disegel choy. Sampailah aku di rak novel di mana ada satu cover warna putih dengan gambar kokeshi, seperti pulpen kokeshi yang dulu pernah aku punya. Judulnya juga Kokeshi. "Hmm, novel apa ya ini? Jepang-jepangan, menarik nih," gumamku. Aku cermati lagi, ada "darah" mengalir. "Wah, ini pasti novel misteri," pikirku senang karena merasa menemukan sesuatu. Aku baca sedikit sinopsis dan testimoninya. Iya, sedikit. Aku gak mau kalo-kalo testimoninya spoiler. "Fix, aku ambil novel ini," batinku mantap.

Tuesday, 10 November 2015

Dubbing Dubbing Annoying

Gak sedikit acara tivi luar negeri yang masuk ke Indonesia. Gak tau kenapa, acara tivi di Indonesia jadi rada malesin buat ditonton. FTV dari tivi (yang katanya) ngetop itu misalnya. Rata-rata alurnya sama. Cewek - cowok gak sengaja ketemu, berantem, endingnya mereka jadian karena salah satu dari mereka diselingkuhin sama pacarnya. *sigh* Masih mending TVM menurutku, sejenis film televisi dari channel sebelah. Temanya gak cuma itu-itu aja, ada satu TVM yang bisa sampe bikin aku menitikkan air mata. Ketika Malaikat Turun judulnya. Ceritanya tentang kakak beradik gitu, mengharukan banget. Kebanyakan TVM temanya mengharukan, walaupun tak jarang juga tentang paha-dada yang ujung-ujungnya disensor sendiri.

Dulu juga sering ada sinetron adaptasi dari luar negeri. Salah satunya adalah Kau Masih Kekasihku, yang merupakan sinetron adaptasi dari judul At The Dolphin Bay. Lalu ada Buku Harian Nayla yang judul aslinya adalah 1 Litre of Tears, dan masih banyak lagi. Tapi makin ke sini, sinetron-sinetron adaptasi tersebut tidak mencantumkan judul asli yang mereka referensikan sehingga terkesan menjiplak. Salah satu di antaranya adalah sinetron yang diperankan oleh Morgan Smash, yang katanya menjiplak drama Kroya Korea tentang alien gitu.

Monday, 9 November 2015

Succeed? NO! It's Suck-Seed

Ceritanya kemarin malem, pas aku lagi scroll-scroll timeline instagram, aku nemu postingan foto yang captionnya tertulis kalo lagi ada promo grand opening Pizza Celana yang di salah satu mall di Solo yang ada apartemennya itu. Promonya seperti biasa, buy 1 get 1 free hanya dengan nge-follow akun instagramnya si "Pizza Celana" itu. Sebagai manusia bermental gratisan-diskonan, langsung berbunga-bunga lah hatiku. "Wah pas banget nih timing-nya. Biasanya kalo tiap ada promo, pasti telat terus tau infonya." Pikirku. Kemudian aku tidur.

Pagi tadi (tapi gak pagi buta juga kali), aku ngechat Sinju, ngasih tau tentang promo semalem. Secara, 50% anak Ganglion itu emang berasal dari kalangan menengah gratisan, dan sisanya berasal dari kalangan menengah diskonan. Salah satunya ya, Sinju. Kenapa Sinju? Karena selain kita rumahnya mayan deket, dia juga mayan gampangan anaknya. Yaa, aku emang temen paling pengertian sedunia.

Aku: "Nju, neng pizza celana lagi promo buy 1 get 1 free lho.."
Sinju: "Sek, sek, tak niliki jadwalku."

Setelah perdebatan alot soal hujan-gak hujan, ngaret-gak ngaret, dan juga perang PING!!!, akhirnya deal di jam 8 malem.

Wednesday, 21 October 2015

Catatan Hati Seorang Seller Online Shop

"Eh, hai.. Kerja di mana sekarang?"
Seperti itulah pertanyaan yang terlontar dari setiap orang yang aku temui. Gak ada yang salah memang. Cuma agak bingung aja jawabnya. Palingan biasanya aku jawab, "Jualan online, haha," lengkap dengan gaya cengengesan. Gengsi? Gak sih, ngapain juga gengsi. Walaupun penghasilannya belum seberapa, tapi lumayan lah buat ngisi waktu luang sembari nyari kerjaan tetap. Toh semua bisnis berawal dari bawah, bukan? Gak bisa langsung di atas. Tapi banyak juga yang meng-underestimate. Ya biasa lah.. Masih banyak orang yang berpikiran, "Sekolah tinggi-tinggi kok masih nganggur?" Biarin aja. Talk is cheap, isn't it? Apalagi kalo sesama operator.

Gak ada pekerjaan yang sempurna. Kerjaan gampang, jam kerja pendek, gak pake mikir, fasilitas oke, gaji gede, dapat kapal pesiar pula. Emang ada kerja begitu? Siapa yang mau bayar? Palingan juga iming-iming dari money game doang. Intinya, kerja itu gak ada yang gampang. Semua pasti mengalami suka duka dalam bekerja, apapun kerjaannya. Begitu juga jualan online.


Baiklah, ini curhatan. Udah sekitar 3 bulan ini aku nyoba peruntungan di ranah jualan online. Jualan online? Maksudnya nama dagangannya "online" gitu? Bukan lah! Maksudnya, jualan secara online. Kalo bahasa gawlnya online store alias buka toko online, gitu. Awalnya aku gak berharap banyak sih. Pas pertama kali ada customer, "Waaaa... ini beneran? Ada juga yang nanggepin ternyata." Seneng banget. Waktu itu masih momen lebaran. Langsung dapat dua customer, dan masing-masing beli dua biji. Dari situ aku mulai pede dan lebih semangat. Aku jadi sering promosi, sering upload foto di instagram dengan banyak hashtag biar banyak customer yang kejaring. Huhuuuw, senangnya... Duduk-duduk dapet duit. Eh gundhulmu! Gak duduk-duduk juga kali. Modal utama adalah henpon dan kuota. Makin ke sini, aku jadi tau gimana dunia online shop itu. Ada sukanya, banyak dukanya. Di antaranya adalah....

Thursday, 8 October 2015

Review: Lipstik Mustika Ratu Warna Favorit 09

Halo.. Kali ini aku mau review lipstik lagi. Entah kenapa, setelah ditinggal (habis) si Koshize Coral Fierce, yang notabene adalah lipstik cinta pertamaku, yang notabeni adalah lipstik yang untuk pertama kalinya aku pake sampe habis beneran habis, yang notabeno udah kaga produksi lagi. Aku jadi seperti kehilangan jati diri. Beberapa kali beli-beli lipstik yang siapa tau warna dan teksturnya mirip. Sampe-sampe duit habis cuma buat beli lipstik yang mungkin gak akan habis dipake sampe aku punya cucu. (Lebay loooo..) Tapi tetep aja gak ada satu pun yang mirip-mirip. Sempet mikir juga buat beli di Filipina/Malaysia, karena kayaknya di sana masih produksi. Tapi setelah aku googling kurs mata uang, akhirnya aku urungkan niatku dan menyerah untuk mendapatkan si Koshize itu. Dan pada pencarianku ini, aku kemarin baca-baca review yang membuat aku keracunan. Aku akhirnya beli lipstik lokal yang katanya bagus, yaitu Mustika Ratu Warna Favorit.

Gak lama setelah aku baca-baca review itu, aku pergi ke Luwes dan langsung cari counternya Mustika Ratu. Aku langsung tanya ke BA-nya yang ternyata udah ibu-ibu, baik dan sopan banget, gak cerewet dan sotoy kayak BA-BA yang masih embak-embak. Setelah coba-cobain di punggung tangan, akhirnya aku pilih nomer 09. Bismillah, semoga cocok.

Saturday, 11 July 2015

Kamu Berubah, Sahabat

Rencananya besok, hari Minggu, Dara ngajakin bukber sama temen-temen SMP di tempat ayam-ayaman gitu. FYI, Dara itu temen sebangku aku waktu SMP. Mulai dari kelas 1, 2, 3, sebangku terus. Walaupun gitu, sering banget musuhan. Hah, jaman piyik. Dia itu dulu cewek paling cantik di sekolah. Sampe-sampe, beberapa kali dia dilabrak sama kakak kelas yang cewek-cewek gara-gara kakak kelas yang cowok-cowok pada bilang suka ke dia. Dulu mah, lagi jamannya penjajahan. Nah, karena kepopularitasannya Dara itu, aku jadi mikir-mikir "mau ikut bukber gak ya?" Soalnya nanti aku gak mau jadi kambing congek, gara-gara gak punya temen. Walaupun gak mungkin sih kayaknya Dara ninggalin aku di tengah kerumunan penyamun. Ya, sayangnya, meskipun temen sebangku aku adalah orang yang populer, tidak demikian dengan aku. Aku bukan orang populer. Aku gak cantik, aku juga gak ramah. Aku mah apa atuh. Paling-paling, orang kenal aku gara-gara namaku sering nangkring di nomor dua. Ya, dua, dan bukan satu. Karena nomor satunya diisi sama orang yang juga tergila-gila sama Dara. Hahaha... (Gak tau juga kenapa aku ketawa.)

Ngiahahaha...

Baiklah, setelah menimbang dengan seimbang, aku memutuskan kalo aku akan ikut buber. Degan alasan yang gak perlu disebutkan di sini. Ya, semacam misi rahasia. Semoga berhasil. Semoga banget, karena mungkin ini adalah kesempatan yang terakhir kalinya.

Monday, 6 July 2015

Bagaimana Menghadapi Si Tukang Gosip?

Suatu ketika, aku tergabung dalam sebuah lingkungan baru. Gak ada orang yang aku kenal, kecuali satu, yaitu temen kuliahku, se-geng juga kebetulan. Tapi bukan dia yang mau aku ceritain. Jadi di sana aku cuma kenal dia doang. Gak mungkin kan, dalam lingkungan yang bisa dibilang tidak-terlalu-kecil aku cuma kenal satu orang aja. Jadilah aku sedikit berpura-pura menjadi orang lain yang sok manis, sok ramah. Padahal mah, senyum aja suka males. Basa-basi apalagi. Duh, gak jadi diri sendiri itu gak nyaman banget lah pokoknya. Tapi lama-kelamaan, aku mulai bisa menjadi diriku sendiri, yang gak perlu fake-smiling lagi. Sedikit demi sedikit aku jadi tahu sifat orang-orang di sekitarku.

Sebut saja Vira. Dia sebenernya orangnya baik, asik juga, bisa diajak serius, bisa diajak bercanda. Dia juga gak pelit orangnya, sering nraktir kita-kita. Bisa dibilang, dia orang yang paling deket sama aku (setidaknya waktu itu) sepeninggalan temenku yang satunya lagi, Umi namanya. Dulu kami bertiga adalah satu tim. Umi yang kalem, keibuan, dan alim. Aku yang semau gue, dan Vira yang semau die. Kami bertiga saling melengkapi. Tapi kemudian, Umi hengkang. Vira kecewa, dia jadi sering ngomongin kejelekan Umi (di mata dia), ngomongin ketidaksukaannya pada Umi juga. Dari situ aku semakin yakin kalo dia itu GOSSIPER AKUT. Gak ada si A, dia gosipin A. Besoknya ketemu si A, eh gosipin si B. Haduduh... Gak cuma itu, dia juga seorang pembenci. Semua orang dibenci sama dia. Ingat! What's around you makes you. Aku gak mau lah, jadi orang kayak dia. Memang dia temenku, aku udah nganggep dia kayak kakakku sendiri. Tapi walaupun gitu, aku gak mau jadi seperti itu. Seperti itu? Seperti itu maumu, mama papa tolong akuuuu~ Eh kok jadi Syahrini sih? Oke, jadi karena aku gak mau jadi pembenci dan gossiper akut (aku sih cukup jadi gossiper aja, gak mau sampe akut), akhirnya aku melakukan beberapa langkah. How to overcome the gossiper? Here is it:
Rumpi? No Secret! Muah.

Friday, 19 June 2015

Review: Sophie Martin Paris Satinlips Lipstick Melodrama

Halo semua... Kali ini, aku mau review. Yaa, biar ada manfaatnya gitu. Biar isi blognya gak curhat/nyindir terus. Lagian ini bulan ramadhan, mana boleh nyindir-nyindir, gosip-gosip. Gak baik kan? Ntar deh, habis lebaran kita nyindir-ngegosip lagi. Oke?

Nah, aku mau review lipstik nih. Tapi sebelumnya, aku mau cerita dulu. Singkat cerita, karena lipstik kesayanganku mau habis, jadi aku mau beli lagi yang sama persis. Lipstik yang biasa aku pake yaitu Koshize Satinlips Lipstick Coral Fierce. Ini ibukku yang beliin, sekitar 1 tahun yang lalu, waktu di sekolah lagi ada anak PPL yang jualan sophie paris, terus aku dibeliin deh. Aku suka banget warnanya. Ibukku emang tau banget. Tapi karena tiap hari aku pake, jadi sekarang udah mau habis aja. Baru kali ini aku bisa pake lipstik sampe habis.

My Favorite Lipstick

Tuesday, 2 June 2015

Ding Dingggg!!!

Hallo semuanya... Maaf ya, jarang posting. I have no time, nih. :(

Eh, tapi jangan sedih. LIMPPOMPOM sekarang punya tumblr loh! Udah lama sih sebenernya, cuma gak di-publish aja. Disortir juga, mana yang lulus sensor, mana yang enggak. Kemungkinan sih bakal sering posting di tumblr untuk sementara ini. Khusus buat postingan pendek aja kok, bukan pindahan.

Oke baiklah, ini dia: limppompom.tumblr.com

See you there... :D

Sunday, 22 March 2015

Get Well Soon, Poor Phalanges

Sudah dua hari ini, aku merasa aneh dengan salah satu bagian tubuhku. Lebih tepatnya pada bagian phalanges alias jari. Lebih tepatnya lagi, jari tangan. Lebih tepatnya lagi, jari tangan kiri. Lebih tepatnya lagi, jari tengah tangan kiri. Hah. Gak tau juga, kenapa yang kena musibah adalah jari tengah tangan kiri, Mungkin karena udah lama gak ketemu Puput, makanya jari ini udah jarang digunakan. What? Digunakan buat apaan? Digunakan buat Sajate (kalo bahasanya Jekngkol: Sajete) yang merupakan singkatan dari Salam Jari Tengah. Iya, kebiasaan kalo ketemu sama temen satu itu (Puput), bawaannya pengen ngasih sajate, saking kemamplengnya. Mungkin bagi kalian ini rude banget ya? Hahaha... Santai aja, di Ganglion, sarcasm dan bullying sudah menjadi santapan sehari-hari.

Monday, 16 March 2015

Bales Woy! (with Soundcloud)

Ceritanya nih, aku kemarin SMS temen, nanya tentang perpanjangan SIM. Karena rencananya hari ini aku mau perpanjang SIM-ku yang bulan depan udah expired. Kuketiklah sebuah pesan berisi kalimat tanya. Lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu. "Kok raono SMS sih? Perasaan aku bar ngirim SMS deh?" yaa, gitu deh kalo orang pelupa. Lalu aku tekan pintasan conversation di henponku. "Oh iyo, aku kan bar SMS Amaranthus (nama disamarkan). Kok rung bales sih? Hih. Jangan-jangan pending," batinku. Lalu aku cek info pesan, eh delivered. Hhhh, kebiasaan deh tuh orang, balesnya lama. Setiap jam aku cek henpon, gak ada SMS masuk. Sekalinya ada, eh Indosh*t. Aku pun tak lagi mengharapkan balasan darinya. "Hhh, tenono we."

Buat nambah pengetahuan kamu aja ya, aku adalah orang yang paling sebel kalo aku SMS/chat tanya tapi gak dibales. Walaupun aku juga kadang gitu sih, hehe... Tapi, sebagai orang yang "tahu balas budi", woooo... Jangan khawatir. Kalo kamu balesnya lama, besok-besok kalo kamu SMS/chat, aku juga bakalan lama balesnya. Apalagi kalo kamu gak bales, hahaha... You can figure it out. Tapi kadang aku juga berpikiran positif aja sih. Siapa tau....

Friday, 6 March 2015

Karaokean yuk, Jeung...

"Suntuk nih di rumah, keluar yuk."
"Sama nih, yuk. Ke mana?"
"Nyenyong aja lah, pengen jerit-jerit."
"OK, jam 11 langsung TKP ya."
"Yoa, see ya."

Jrengggg... Tak mau lagi aku percaya...

Jadi, seperti itulah. Kalo orang terlalu bosan dengan rutinitas yang dijalani sehari-hari, pasti ada titik di mana orang itu ingin melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Melakukan hal yang sama setiap harinya, weekend pun dilalui hanya dengan tidur sepanjang hari, tidak diimbangi dengan kegiatan yang menyenangkan, huuuuh... Such a boring life. Jadi aku, kalo lagi bosen, suntuk, pengen curhat takut ngerepotin orang, pengen nulis males, ya akhirnya ngajakin orang-orang buat karaokean/nyenyong. Kalau gak ada yang mau sih, aku berangkat sendiri. Pernah waktu itu, aku suntuk to the max banget, males ngajakin orang karena paling gak ada yang mau, akhirnya aku pergi sendiri. Eh, diledekin sama mas-mas karaokeannya, "Lagi galau ya, mbak?" Sialan! "GAK MAS, MAU LATIHAN VOCAL GAK PUNYA DUIT BUAT KE STUDIO!"

Sunday, 1 March 2015

Sang Pemimpi

Aku merasa beruntung menjadi seseorang yang sering bermimpi ketika tidur. Seringkali, mimpi yang aku alami adalah mimpi indah, bertemu dengan seseorang yang telah lama tidak bertemu. Namun tak jarang, aku juga bermimpi buruk, seperti dikejar-kejar sesuatu atau seseorang. Aku sangat senang ketika aku terbangun, aku masih mengingat mimpi yang aku lihat. Ya, karena mimpi hanya tersimpan dalam short term memory, jadi aku langsung menuliskannya dalam catatan, kemudian nanti aku tulis di blog ini. Dengan begitu, aku tidak akan pernah lupa akan mimpiku yang begitu adventurous, selamanya.

Mimpi. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dari mimpiku. Seperti sangat nyata ketika aku melihatnya. Sering sekali, mimpi-mimpiku juga mempengaruhi mood swing-ku hari itu. Misalnya setelah aku bermimpi tentang hantu, pembunuh, atau makhluk-makhluk menyeramkan lainnya, aku akan terbangun dan selama hari itu, aku berada dalam rasa ketakutan. Seperti yang pernah aku ceritakan di postingan ini (How Eerie), aku masih merasakan aura yang menyeramkan seharian.

Friday, 13 February 2015

Sejenak Nostalgia Masa Kecil

Pagi ini aku sudah berencana untuk membuat sesuatu, makanan, foodporn, masak-masak. Maka dari itu, pergilah aku ke sebuah minimarket untuk membeli bahan-bahannya. Ambil, ambil, ambil, bayar, pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung motongin bahan-bahan yang aku beli tadi. Kagetlah aku ketika membuka kejunya. Jeng jeng jeng jeng, "Lhoh, kok cekung ngene sih? Gek ono bintik-bintik e. Deloken kik," kataku pada adikku yang saat itu sedang memotong-motong sosis. Lalu aku lihat tanggal kadaluarsanya, 13 Feb dengan tahun yang sedikit samar namun tidak meragukan bahwa di situ tertulis angka 15. 13 Februari 2015, yang berarti adalah hari ini. Ya, hari ini keju itu sudah tidak layak dikonsumsi. Sebel banget. Lalu aku bergegas pergi ke minimarket itu lagi. Ngeng... Parkir, masuk. Eh tiba-tiba ada yang manggil aku. Temen deketku dulu waktu kecil, anak neighbourhood, yang sekarang kerja di minimarket itu. "Eh, hai... Huuuh, mosok aku tuku keju, kadaluarsa. Sebel banget aku," keluhku padanya. "Oh, diijolke wae," sarannya. Kemudian aku berjalan cepat menuju kounter keju dan coklat, tempatku memesan keju. "Mbak mbak," panggilku ke mbak-mbak penjaga kounter. Bersyukur banget yang datang adalah mbak-mbak yang tadi ngambilin aku keju. Jadi aku bisa marah-marah komplein ke dia. "Ki mbak, kadaluarsa!" kataku pada mbak-mbak yang raut mukanya sedikit terlihat bingung. "Ini mau ditukar, mbak?" kata-katanya sedikit terbata. "Iya lah tuker, kalo ada yang gak kadaluarsa sih," kataku ketus, karena sudah terlalu kesal. Kemudian mbak-mbak tadi mengambilkan satu keju dari dalam lemari kaca. Aku lihat tanggal kadaluarsanya, Mei. "Kalo udah kadaluarsa jangan dijual dong mbak!" tambahku sebelum pergi. "Pie?" tanya temenku tadi. "Uwes, bla bla bla..." akupun berlalu.

Karena aku bertemu temen lamaku tadi, sebut saja namanya Tari, di sepanjang perjalanan, aku teringat sesuatu. Dulu waktu kecil, kami adalah sahabat. Main bongkar pasang, lompat tali, delikan, sikep jengkol, kasti, masak-masakan, anak-anakan, tukeran diary, main Tamagotchi bareng... Tiap ada aku, pasti ada dia, begitu pula sebaliknya. Ya, walaupun pernah beberapa kali kami berantem dan musuhan. K, kita bahas satu-satu ya, aku lagi pengen bernostalgia masa kecil kami, aku dan dia, juga teman-teman yang lainnya.

Friday, 30 January 2015

Problematika Jaman Sekarang: Group Chat

Salah satu problematika jaman sekarang adalah Group Chat. Di sini aku ambil aplikasi Whatsapp dan Line ya, karena hanya dua aplikasi itu yang aku pakai. Di Line sih masih mending, kalo diundang ke grup chat gitu masih ada konfirmasi mau gabung apa enggak. Lah kalo di Whatsapp? Gak ada undangan, gak ada apa, tiba-tiba aja nongol grup baru di chat list. Hhh, tidak sopan sekali.

Untuk orang yang little bit antisosial seperti... aku ini, menurutku grup chat itu ada plus minusnya sih. Plus-nya, asik, rame, (kalo anggotanya asik sih), dan yang gak kalah penting, bisa membuat bunyi-bunyian notifikasi kalo henpon lagi sepi. Biar kalo lagi ada di situasi canggung gitu ada alesan buat ngecek henpon. Ya, biar gak disangka ngenes aja, masa punya henpon gak pernah bunyi. Hahaha ha ha ha, uhuk. Minus-nya... Kalo berisik sih, enggak ya, soalnya kan bisa di-mute. Oke, jadi minus-nya apa? Banyak!

Friday, 23 January 2015

What A Beautiful Voice

Awkward adalah ketika aku menyanyi di dalam kamar dengan suara yang memang sengaja tidak di-setting "bagus", aku keluar dari kamar, dan baru menyadari bahwa di luar ada tamu. Kemudian hening. Suara cekikik kecil menyambut. Tamat.

Sunday, 18 January 2015

Tata Krama Pake Aplikasi Chatting

Pada jaman serba "pintar" seperti sekarang ini, siapa sih yang gak tau aplikasi-aplikasi chatting yang lagi ngehitz (pake Z) banget. Hari gini, aplikasi chatting sering diiklanin di tivi. Yakali gak tau, situ bertapa di bukit tunggal? Ya memang sih, aplikasi chatting udah ada dari jaman dahulu (gak pake kala). Ada mIRC, yang konon adalah tetua dari segala aplikasi chatting. Aku gak pernah make sih, cuma liat shortcut-nya aja di desktop komputerku dulu. Dulu waktu kecil, ya gak kecil-kecil amat sih, udah ngerti komputer lah minimal, aku kalo denger kata chatting yang ada di pikiranku adalah: orang-orang (yang kalo jaman sekarang disebut) alay jomblo ngenes. Gimana enggak, aku sering banget lihat Ashanti seliweran di tivi ngiklanin Chat n Date. Iya, Ashanti-nya Anang yang juri Indonesian Idol itu loh. Jadi, berdasarkan iklan itu, Chat n Date adalah sejenis program KETIK REG <SPASI> BLA BLA yang bertujuan untuk nyari kenalan gitu. Iya, pake SMS. Tapi seiring berjalannya waktu, Chat n Date ngeluarin aplikasi chatting kayak sekarang ini.

Monday, 12 January 2015

Persahabatan Geng - Cerita Ketiga

Peringatan!
Postingan ini mengandung unsur rahasia. Persamaan nama, tempat, dan jalan cerita adalah reka saya. Kecuali kalau disama-samakan/dipaksakan, bisa jadi memang mirip. Jadi jangan sotoy. Apa yang terjadi di blog ini, biarlah tetap berada di blog ini. Tidak perlu di-share karena saya tidak ingin terkenal. Selamat membaca (kalau ingin membaca).

 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang