Monday, 12 January 2015

Persahabatan Geng - Cerita Ketiga

Peringatan!
Postingan ini mengandung unsur rahasia. Persamaan nama, tempat, dan jalan cerita adalah reka saya. Kecuali kalau disama-samakan/dipaksakan, bisa jadi memang mirip. Jadi jangan sotoy. Apa yang terjadi di blog ini, biarlah tetap berada di blog ini. Tidak perlu di-share karena saya tidak ingin terkenal. Selamat membaca (kalau ingin membaca).

Kisah ini dimulai ketika kami pergi study tour bersama angkatan kami. Kami yang pada mulanya masing-masing memiliki satu atau dua teman dekat kemudian tanpa alasan yang jelas menjadi sekumpulan grup yang lumayan besar - kami menyebutnya Geng Sigedegedean. Semenjak saat itu, kami begitu dekat sampai-sampai ke mana-mana selalu bersama. Kami juga selalu merayakan ulang tahun kami bersama-sama.

Suka duka kami rasakan. Kebahagiaan, permasalahan, konflik, sering terjadi di antara kami. Tapi kami tetap bersama, karena kami menyadari bahwa kami adalah keluarga, geng, Geng Sigedegedean. Beberapa waktu berlalu, kami mengubah nama geng kami, karena nama Geng Sigedegedean sangat ribet untuk diucapkan. (Sehingga saya pun sampai capek sendiri menulisnya.) Akhirnya tercetuslah sebuah nama yang simpel, Geng Ster. Ya, kita adalah Geng Ster. Nama yang keren, bukan? Tapi perubahan nama itu tidaklah penting. Saya memang sengaja merubah namanya karena saya malas menulis panjang-panjang hanya untuk sebuah nama geng. Lupakan saja.

Di dalam sebuah geng ternyata masih ada geng. Begitulah pepatah (ciptaan saya) mengatakan. Jadi geng yang besar itu pasti ada geng-geng kecil di dalamnya. Seperti pada awalnya yang memang bentukan dari geng-geng kecil yang bermain bersama. Berasal dari geng kecil, kembali lagi menjadi geng kecil. Suatu ketika, salah satu dari kami ada yang sedang mempunyai masalah. Sebagai teman sepergengan, tentu saja kami merasakan empati. Atau mungkin hanya satu orang (bodoh) ini saja yang belum menyadarinya. Ya, orang bodoh ini bernama Aku. Aku dengan bodohnya ingin menghibur dia, karena Aku pikir orang yang sedang memiliki masalah pasti ingin mencurahkan perasaannya demi meringankan pikirannya. Tapi ternyata tidak. Aku baru sadar kalau ternyata Aku bukan bagian dari geng kecilnya. Aku tidak berhak tahu apa-apa tentang masalahnya. Oke, tak masalah. Aku pun berlalu karena Aku tahu anjing akan segera menggonggong.

Mari kita throwback lagi. Seperti kacang lupa akan kulitnya. Entah apakah perumpamaan itu benar atau tidak. Saat salah satu dari kami, sebut saja namanya Dia, tidak punya apa-apa, kami selalu ada untuknya. Memberikan apa yang Dia butuhkan. Memang sempat Dia merasa tidak enak karena berpikir merepotkan kami semua. Tapi kami semua tak pernah mempermasalahkannya karena memiliki "kekurangan" adalah hal yang wajar. Setelah Dia punya semuanya, semua yang Dia inginkan sejak saat bersama kami, bersama Geng Ster, Dia berubah. Dia lebih sering bersama geng barunya. Mungkin geng barunya lebih asik, lebih gaul, dan lebih terpandang. Ya, kini memang sudah berubah, namun tidak semuanya. Memang untuk seimbang, supaya tidak jatuh, kita harus bergerak, bukan?

Dan salah satu teman kami yang bernama Aku, dia hanya ingin mengenang. Mengenang kepergian beberapa dari kami. Oh tidak, beberapa dari kami tidak (maaf) meninggal, hanya pergi saja.


- RIP GENG STER -

3 comments:

  1. Di dalam sebuah geng ternyata masih ada geng. Begitulah pepatah (ciptaan saya) mengatakan. Jadi geng yang besar itu pasti ada geng-geng kecil di dalamnya. Seperti pada awalnya yang memang bentukan dari geng-geng kecil yang bermain bersama. Berasal dari geng kecil, kembali lagi menjadi geng kecil. Suatu ketika, salah satu dari kami ada yang sedang mempunyai masalah. Sebagai teman sepergengan, tentu saja kami merasakan empati. Atau mungkin hanya satu orang (bodoh) ini saja yang belum menyadarinya. Ya, orang bodoh ini bernama Aku. Aku dengan bodohnya ingin menghibur dia, karena Aku pikir orang yang sedang memiliki masalah pasti ingin mencurahkan perasaannya demi meringankan pikirannya. Tapi ternyata tidak. Aku baru sadar kalau ternyata Aku bukan bagian dari geng kecilnya. Aku tidak berhak tahu apa-apa tentang masalahnya. Oke, tak masalah. Aku pun berlalu karena Aku tahu anjing akan segera menggonggong.

    sepakat!! wkkk

    ReplyDelete

 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang