Saturday, 11 July 2015

Kamu Berubah, Sahabat

Rencananya besok, hari Minggu, Dara ngajakin bukber sama temen-temen SMP di tempat ayam-ayaman gitu. FYI, Dara itu temen sebangku aku waktu SMP. Mulai dari kelas 1, 2, 3, sebangku terus. Walaupun gitu, sering banget musuhan. Hah, jaman piyik. Dia itu dulu cewek paling cantik di sekolah. Sampe-sampe, beberapa kali dia dilabrak sama kakak kelas yang cewek-cewek gara-gara kakak kelas yang cowok-cowok pada bilang suka ke dia. Dulu mah, lagi jamannya penjajahan. Nah, karena kepopularitasannya Dara itu, aku jadi mikir-mikir "mau ikut bukber gak ya?" Soalnya nanti aku gak mau jadi kambing congek, gara-gara gak punya temen. Walaupun gak mungkin sih kayaknya Dara ninggalin aku di tengah kerumunan penyamun. Ya, sayangnya, meskipun temen sebangku aku adalah orang yang populer, tidak demikian dengan aku. Aku bukan orang populer. Aku gak cantik, aku juga gak ramah. Aku mah apa atuh. Paling-paling, orang kenal aku gara-gara namaku sering nangkring di nomor dua. Ya, dua, dan bukan satu. Karena nomor satunya diisi sama orang yang juga tergila-gila sama Dara. Hahaha... (Gak tau juga kenapa aku ketawa.)

Ngiahahaha...

Baiklah, setelah menimbang dengan seimbang, aku memutuskan kalo aku akan ikut buber. Degan alasan yang gak perlu disebutkan di sini. Ya, semacam misi rahasia. Semoga berhasil. Semoga banget, karena mungkin ini adalah kesempatan yang terakhir kalinya.

Monday, 6 July 2015

Bagaimana Menghadapi Si Tukang Gosip?

Suatu ketika, aku tergabung dalam sebuah lingkungan baru. Gak ada orang yang aku kenal, kecuali satu, yaitu temen kuliahku, se-geng juga kebetulan. Tapi bukan dia yang mau aku ceritain. Jadi di sana aku cuma kenal dia doang. Gak mungkin kan, dalam lingkungan yang bisa dibilang tidak-terlalu-kecil aku cuma kenal satu orang aja. Jadilah aku sedikit berpura-pura menjadi orang lain yang sok manis, sok ramah. Padahal mah, senyum aja suka males. Basa-basi apalagi. Duh, gak jadi diri sendiri itu gak nyaman banget lah pokoknya. Tapi lama-kelamaan, aku mulai bisa menjadi diriku sendiri, yang gak perlu fake-smiling lagi. Sedikit demi sedikit aku jadi tahu sifat orang-orang di sekitarku.

Sebut saja Vira. Dia sebenernya orangnya baik, asik juga, bisa diajak serius, bisa diajak bercanda. Dia juga gak pelit orangnya, sering nraktir kita-kita. Bisa dibilang, dia orang yang paling deket sama aku (setidaknya waktu itu) sepeninggalan temenku yang satunya lagi, Umi namanya. Dulu kami bertiga adalah satu tim. Umi yang kalem, keibuan, dan alim. Aku yang semau gue, dan Vira yang semau die. Kami bertiga saling melengkapi. Tapi kemudian, Umi hengkang. Vira kecewa, dia jadi sering ngomongin kejelekan Umi (di mata dia), ngomongin ketidaksukaannya pada Umi juga. Dari situ aku semakin yakin kalo dia itu GOSSIPER AKUT. Gak ada si A, dia gosipin A. Besoknya ketemu si A, eh gosipin si B. Haduduh... Gak cuma itu, dia juga seorang pembenci. Semua orang dibenci sama dia. Ingat! What's around you makes you. Aku gak mau lah, jadi orang kayak dia. Memang dia temenku, aku udah nganggep dia kayak kakakku sendiri. Tapi walaupun gitu, aku gak mau jadi seperti itu. Seperti itu? Seperti itu maumu, mama papa tolong akuuuu~ Eh kok jadi Syahrini sih? Oke, jadi karena aku gak mau jadi pembenci dan gossiper akut (aku sih cukup jadi gossiper aja, gak mau sampe akut), akhirnya aku melakukan beberapa langkah. How to overcome the gossiper? Here is it:
Rumpi? No Secret! Muah.
 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang