Tuesday, 10 November 2015

Dubbing Dubbing Annoying

Gak sedikit acara tivi luar negeri yang masuk ke Indonesia. Gak tau kenapa, acara tivi di Indonesia jadi rada malesin buat ditonton. FTV dari tivi (yang katanya) ngetop itu misalnya. Rata-rata alurnya sama. Cewek - cowok gak sengaja ketemu, berantem, endingnya mereka jadian karena salah satu dari mereka diselingkuhin sama pacarnya. *sigh* Masih mending TVM menurutku, sejenis film televisi dari channel sebelah. Temanya gak cuma itu-itu aja, ada satu TVM yang bisa sampe bikin aku menitikkan air mata. Ketika Malaikat Turun judulnya. Ceritanya tentang kakak beradik gitu, mengharukan banget. Kebanyakan TVM temanya mengharukan, walaupun tak jarang juga tentang paha-dada yang ujung-ujungnya disensor sendiri.

Dulu juga sering ada sinetron adaptasi dari luar negeri. Salah satunya adalah Kau Masih Kekasihku, yang merupakan sinetron adaptasi dari judul At The Dolphin Bay. Lalu ada Buku Harian Nayla yang judul aslinya adalah 1 Litre of Tears, dan masih banyak lagi. Tapi makin ke sini, sinetron-sinetron adaptasi tersebut tidak mencantumkan judul asli yang mereka referensikan sehingga terkesan menjiplak. Salah satu di antaranya adalah sinetron yang diperankan oleh Morgan Smash, yang katanya menjiplak drama Kroya Korea tentang alien gitu.


Setelah adapt to adapt, jiplak-menjiplak, sekarang juga lagi marak dubbing-mendubbing. Apa sih dubbing itu sebenernya? Dubbing is a form of post-synchronized revoicing that involves recording voices that do not belong to the on-screen actors, speaking in a language different from that of the source text and ideally in synch with the film image. Simpelnya, dubbing adalah ngisi suara ulang. Macam dubsmash gitu lah. Sebenernya dari dulu udah ada sih, mungkin gak nyadar aja kali. Makin ke sini, dubbing-mendubbing semakin membabi buta. Mulai dari kartun, drama-drama dari luar macam India-indiaan, Turki-turkian, sampai film-film live action macam Spiderman, dan yang paling baru, Harry Potter. Yap, Harry Potter and The Deathly Hallow yang "katanya" tayang perdana. "Yes! Perdana, berarti gak pake dubbing-dubbingan." pikirku. Sampe-sampe aku pasang alarm biar gak kelewat. Eh tapi apa, nyatanya tetep aja dubbingan. Aku jadi gak nafsu buat nonton.

Karena yah, seperti biasanya, dubbingan Indonesia cuma bisa mencemari keaslian filmnya. Aduuuuh, masak Harry Potter, Ron Weasley, Hermione suaranya jadi begitu. Beda banget sama aslinya. Severus Snape yang misterius, dan Dumbledore yang bijaksana masak suaranya mendesah-desah gitu. Najis. Gimana? Belum bisa bayangin ya? Hmm... Pernah nonton Naruto yang di GombalTV gak? Nah, kayak gitu lah kurang lebihnya. Suaranya gak natural, banyak huruf H-nya. Gak cewek, gak cowok, semua ada H-sfx nya.

Contoh:
"(H)tunggu(h) b(h)iar aku periksa(h) seperti(h)nya dia(h) masih hidup(hhhh)," kata Mad Eye. Bujug, Mad Eye yang sangar itu, masa suaranya jadi begitu. Mad Eye gak Mad Dog nieyeyeyey, gak greget. Jadi gak sangar lagi choy!

Atau yang di Naruto waktu Sakura ngomong, "S(h)emangat(h) (h)Narutoooo(h), aku(h) akan mendukungmuuuu(h)."

Jijique!

Gak cuma sampe situ aja keanehan dubbingan negeri ini. Sadar gak sih, kalo suara-suara dubber di negeri kita tercinta ini cuma itu-itu aja. Sampe-sampe ada suara Squidward di film Monster Inc, ada suara Arthur di film Harry Potter, suara Elif di film Frozen, gitu-gitu deh. Kayak dubber gak ada yang lain aja. Bisa kali, paling enggak disesuain dikit sama suara aslinya. Jangan asal comot dong. Pengisi suara aslinya aja pasti dipilihnya gak main-main. Yakali, masa Selena Gomez pengisi suaranya Mavis di Hotel Transylvania diganti sama pengisi suara yang gak tau siapa. Gak level choy! Padahal itu di tayangan perdananya di tivi. Jadi males nontonnya, untung aku udah nonton versi aslinya. Sekarang mah dubbingan gak kenal ampun, film perdana pun didubbing. Mirishhhh.

LMAO (let me ask Obama), sebenernya, tujuan dubbing itu apa sih? Biar anak kecil gak kesulitan memahami filmnya karena harus baca subtitle? Okelah. Biar suara-suara yang kabur bisa diperjelas? Fine. Berarti harusnya, yang didubbing cuma film-film buat anak-anak aja dong? Aku tanya lagi deh, Cinta di Musim Cherry itu drama buat anak-anak apa dewasa ya? Ngapain juga harus didubbing? Padahal aku pengen tau suaranya orang Turki itu bijimane, Ayaz dan Oyku kalo ngomong itu bijimane. Dan setelah aku coba cari di youtube, eh ternyata beda banget. Oyku suaranya agak nge-bass aslinya, gak kayak ini cempreng, lengkap dengan H-H-sfx. *sigh*

1 comments:

  1. sama deh kalo gitu, aq jg gk suka sm perdubbingan di tv lokal. kadang nonton drama korea brasa kek lg nonton kartun. slain itu kita jd gk tau sm suaran asli mreka,sering bgt gk sesuai antara expresi pemain dn suara si dubber. dn yang paling penting kita jd kehilangan momen buat tau bahasa negara mereka masing" karna sdh di sulih bahasa ke indonesia.alternatif lain ya hrs beli kaset dvd nya. sory ya klo komen aku panjang bgt
    ;-)

    ReplyDelete

 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang