Saturday, 26 December 2015

Masa Kecilku

25 Desember. Tahun 2015 akan segera habis, berganti dengan tahun 2016. Saat ini usiaku sudah lebih dari kepala dua, lebih tepatnya dua puluh dua. Apa sih artinya sebuah angka? Hmm.. bagiku, angka ini sebagai penghitung bahwa aku sudah cukup lama berada di dunia ini. Banyak hal yang aku alami, aku rasakan, selama aku hidup. Mulai saat aku masih belum bisa mengingat, mengerti, sampai sekarang, bahkan nanti saat aku tak bisa mengingat lagi. Maka sebelum itu terjadi, aku akan menuliskannya di sini. Hanya untuk mengingatkan pada diriku sendiri bahwa aku punya masa kecil yang sangat memorable.

Di Sekolah
Aku ingat betul, dulu waktu SD, aku bukan anak yang populer. Aku bukan yang terbaik, namun bukan yang terburuk. Waktu kelas 1 dan 2, aku selalu dapat rangking 2. Tapi entahlah, aku tidak terlalu tau arti rangking jadi sikapku biasa saja. Sampai saat mulai kelas 4, teman sekelasku yang bernama Duani, yang mana selalu rangking 1 menyuarakan perasaan bangganya terhadap diri sendiri karena selalu mendapat rangking 1. Aku, yang sejak kelas 3 rangkingnya menurun jadi sedikit mikir, "Dulu aku juga sering dapat rangking 2." Dari situ aku baru tau arti rangking. Tapi sampai SD berakhir aku tak pernah lagi menjadi nomor 2, apalagi 1.

Dibully
Ketika SD, aku bukan orang yang punya banyak teman. Kebanyakan temanku adalah mereka yang aku kenal karena saat TK kami satu sekolah, juga Toni yang notabene adalah tetanggaku. Tapi saat kelas 1, karena mereka (teman-teman TK ku) selalu ditunggu oleh ibunya, sedangkan aku tidak, jadi ke mana-mana aku sendiri. Aku tidak populer, akupun tidak punya geng. Sempat waktu itu aku merasa terintimidasi oleh 3 anak, yang belakangan aku tau namanya Duani, Niken, dan Heni, mereka sepertinya satu geng. Entahlah. Mereka kenal dengan kakak kelas yang akupun tidak tau mengapa dia terlihat sangat benci denganku. Pernah aku "dilabrak" tapi aku tidak takut. Aku baca bet namanya N I N G S I H. Lalu dengan santai aku berkata, "Jenengmu Ningsih to?" Tidak tau, apa yang membuatku berkata demikian, namun aku berharap dia kagum dengan kemampuan membacaku (karena waktu itu aku kelas 1) dan dia berhenti menatapku dengan tatapan meremehkan. Rupanya berhasil. Mereka, Duani, Niken, Heni, dan ketua gengnya, Ningsih, enyah dari hadapanku.


Invisible
Seperti yang telah aku katakan, waktu SD dulu, aku bukan anak yang populer. Ada beberapa anak yang dianggap populer di kelasku dulu.

1. Desitha
Anak orang paling kaya satu sekolah. Dia selalu diperlakukan seperti princess oleh guru yang matre. Alat tulis yang dimilikinya bagus-bagus, tidak ada anak lain yang punya. Parahnya, hanya anak-anak yang dianggapnya teman lah yang boleh meminjamnya. Tentu saja aku tidak termasuk. Dia punya banyak crayon, kotak pensil bertingkat, rautan yang ada pemutarnya, pensil dan penghapus disney, juga buku tulis warna-warni.

2. Lilis
Teman TK ku. Dia populer karena cantik, tinggi, rambutnya panjang, gaya bicaranya lemah lembut, dan jago menari. Anak-anak lain senang berteman dengannya. Tapi tidak dengan aku. Menurutku dia palsu dan "tidak pada umurnya". Tidak hanya anak-anak perempuan saja yang mengaguminya, bahkan anak laki-laki. Ada satu anak laki-laki yang sepertinya tergila-gila padanya, namanya Gerson.

3. Gerson
Anak laki-laki yang sangat mengagumi Lilis. Anak-anak di kelas menyebutnya "Bison Alas" karena badannya yang besar. Tapi walaupun badannya besar, dia lumayan ganteng. Dia adalah ketua geng anak laki-laki "borju", seperti Derino, Wendy, Yudis, Fanani, dan yang berkulit putih lainnya. Tapi Lilis tidak pernah menyukainya karena gendut dan bau keringat.

4. Nurul
Bisa dibilang, dia adalah artis di sekolahku. Badannya mungil, berkacamata, gaya bicaranya lemah, seperti orang sakit. Terdengar kabar kalau dia memang sakit, entah sakit apa. Suaranya juga bagus. Pernah sekali dua kali ada orang membawa sound system ke sekolah, katanya Nurul mau rekaman. Jadilah Nurul nyanyi di tengah lapangan diiringi musik religi, sedangkan anak-anak lain mengerumuninya karena heran. Nurul punya teman yang juga suaranya lumayan, namanya Indah. Mereka berdua sering sekali, saat istirahat, nyanyi di depan kelas. Dan seperti biasa, anak-anak lain berloncatan dan menari-nari seperti di film Petualangan Sherina.

5. Duani
Selalu rangking 1 di kelas. Karena selalu dapat rangking 1, beberapa kali dia jadi ketua kelas. Kadang dibenci karena mencatat nama-nama anak yang ramai di kelas. Tapi kadang disenangi karena pintar.

Itulah beberapa nama anak yang populer saat SD. Aku? Siapalah aku ini. Hanya peraih rangking 2 di 2 tahun pertama, culun, dekil, tidak bisa menyanyi, tidak pernah jadi petugas upacara, bukan anak orang kaya, dan berteman dengan Toni. Yang aku heran, mengapa dulu mereka menganggap aku aneh karena bersahabat dengan Toni? Apa karena dia tidak gaul seperti Gerson dkk?

Tapi Tidak Cengeng
Aku ingat, sesuatu yang mengherankan. Dulu aku beberapa kali pusing saat di kelas. Waktu kelas dua, aku demam sehingga tidak bisa menulis dengan rapi. Dingin, badanku menggigil, tanganku bergetar, dan aku muntah. Hampir setiap demam aku muntah sehingga merepotkan wali kelas dan teman sebangkuku. Tapi bukan itu poinnya. Walaupun beberapa kali aku sakit di kelas, aku tidak pernah menangis. Maka aku heran ketika ada salah satu teman sekelasku, Wendy namanya, anak laki-laki, mendadak dia sakit perut dan tiba-tiba menangis. Padahal waktu itu aku sudah kelas 4. Aku heran dan bertanya dalam hati, "Seberapa sakit sih sampai nangis begitu? Aku kalau sakit tidak pernah menangis. Apa aku yang tidak normal?"

Sebuah Rahasia
Aku ingat, dulu setiap pagi (entah interval berapa hari sekali) ada dokter yang datang ke rumah. Dia menyuntik lenganku (lebih tepatnya pada lipatan siku). Untuk apa? Entahlah, aku bahkan tak pernah menanyakannya karena setelah disuntik aku mendapat biskuit darinya. Aku jadi ingat, dulu bapak juga sering membawa biskuit (semacam oreo) sepulang jaga malam. Kemudian paginya, aku dan adek memakannya dengan gaya oreo: diputer, dijilat, dicelupin. *seka air mata*

Aku ingat, dulu aku tidak pernah diizinkan untuk minum es. Aku selalu bertanya "kenapa?" namun tak pernah mendapat jawaban yang memuaskan dari orang tuaku. Setiap kali diantar ke sekolah, pasti pesan bapak adalah "tidak boleh minum es". Tapi namanya anak kecil, pasti punya keinginan yang kuat. Terlebih teman-teman dulu juga suka beli es. Jadi waktu itu aku melanggar larangan bapak. Aku beli es lilin waktu istirahat sekolah. Dingin. Tapi ternyata, bapak jemputnya lebih awal. Aku kaget, dan langsung membuang es lilin yang kebetulan masih banyak. Aku ditanyai "habis beli apa?" Dengan tanganku yang melingkar di leher bapak, juga masih sangat dingin, aku yakin bapak sudah tau jawabannya. Aku hanya nyengir, bapak tidak marah. *seka air mata*

Pernah waktu itu aku pulang sekolah (seperti biasa) jalan kaki. Tapi tidak seperti biasa karena Toni, sahabat aku waktu itu, tidak masuk sekolah jadi aku jalan kaki sendiri. Entah karena tidak ada teman ngobrol atau gimana, aku merasa sangat haus. Pikiranku hanya satu, beli es ketan hitam. Ya, dulu ada penjual es ketan hitam yang enak banget. Karena kebetulan ibuk memberi uang saku lebih (1000 rupiah yang harusnya 300), jadi aku masih bisa beli es ketan hitam. Sepanjang jalan aku minum es ketan hitam, tanpa teringat pesan bapak kalau aku tidak boleh minum es. Setelah hampir sampai rumah, aku kebingungan bagaimana menyembunyikan tanganku yang masih dingin karena es. Lalu aku menepuk-nepukkan tanganku ke jalan berpasir tepi jalan yang hangat agar dingin di tanganku hilang. Memang dinginnya hilang, tapi merahnya tanganku tidak. Aku pasrah. Maaf ibuk, aku haus. *seka air mata*

Beberapa waktu lalu, aku menemukan sesuatu di tas arsip. Sebuah foto rontgen paru-paru seorang anak kecil, mungkin bayi. Aku menanyakannya pada ibuk, ternyata itu adalah foto rontgen paru-paruku. Dari cerita ibuk, dulu waktu kecil aku terkena bronkitis. Lalu aku menghubung-hubungkan dengan ke-overprotektif-an kedua orang tuaku. Karena itu aku tidak diizinkan minum es? Karena itu aku sering disuntik? Bukan disuntik, ternyata sampel darahku yang diambil. Aku bertanya lagi pada ibuk, apakah aku serapuh itu? Lega, ibuk menjawab bahwa aku sudah sembuh total. Maka dari itu aku sudah boleh minum es dan tidak disuntik-suntik lagi.

Bapak, Dulu Kami Dekat
Aku ingat. Dulu aku punya tetangga, Pak Salim namanya, dia adalah bapaknya Ana dan Fajar. Dia orangnya keras. Seringkali kalau Ana dan Fajar berkelahi, mereka dipukuli dan diikat di pagar. Sifat Pak Salim yang seperti itu ternyata sedikit banyak menginspirasi bapak. Bapak jadi sering mengancam "mau dipukulin kayak Ana, Fajar" tiap kali aku berkelahi dengan adek. Aku jadi takut. Bahkan pernah sampai kejadian karena mungkin bapak sudah habis kesabaran. Dulu aku sangat dekat dengan bapak. Seperti anak dan bapak di sinetron-sinetron yang mana anaknya nempel terus sama bapaknya. Tapi karena Pak Salim, bapak jadi berubah, dan aku jadi takut sehingga kini aku sudah tidak sedekat dulu. *seka air mata*

Sampai di sini dulu cerita tentang masa kecilku. Masih banyak cerita yang saat ini bisa aku ingat. Semoga aku masih bisa mengingatnya sampai aku tua nanti, dan menceritakannya secara langsung pada generasiku.

Night.

5 comments:

  1. postnya terasa melankoli yah.
    tapi apapun masa lalu, yg terpenting adalah hari ini. bahkan dalam kubangan lumpur, berlian tetap berlian. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Asri. Intinya, jangan pernah malu dengan masa lalu kita. :)

      Delete
  2. Whoaaaaaaaa i just read this, and one i really wanna say i miss you my friend.

    ReplyDelete
  3. Whoaaaaaaaa i just read this, and one i really wanna say i miss you my friend.

    ReplyDelete
  4. gak kerasa udah lebih dua puluhan juga

    ReplyDelete

 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang