Tuesday, 15 December 2015

Review Novel Kokeshi

Beberapa hari yang lalu, aku jemput ibuk pulang ngajar. Anak sholekhah gitu deh ceritanya. Eh taunya, ibuk ngajak ke Gramedia buat beli buku PTK. Sebenernya aku gak terlalu suka ke Gramed (singkatan dari Gramedia), soalnya capek kelamaan berdiri. Kalo mau duduk, harus rebutan tempat dulu sama orang-orang. Pas udah duduk pun, kadang juga gak nyaman karena gerak sedikit aja langsung dipelototin orang-orang yang sok-sokan baca buku psikologi padahal niatnya mau nyerobot tempat duduk. Bener-bener rimba, eat or be eaten. Tapi karena udah lama juga gak ke Gramed, akhirnya aku mau-mau aja. Bukan ide buruk juga. Aku suka kalo liat-liat alat tulis yang lucu-lucu gitu, menurutku itu hiburan. Tapi ternyata, belum sempet liat-liat alat tulis, eh ibuk udah nyeret aja ke lantai 2.

"Hmm.. Mau ngapain nih? Yaelah, buku itu lagi." keluhku, ternyata tatanan bukunya masih sama seperti terakhir kali aku ke sini. Bosen, aku gak pernah betah di Gramed. Lagi-lagi, capeknya itu lho. Dan aku liat juga bakalan susah kalo mau nyerobot tempat duduk, kayaknya mereka (yang lagi enak-enakan duduk) udah pewe banget. Jadi biar cepet, aku bantuin ibuk aja cari bukunya. Tapi gak berhasil, ibuk malah baca-baca dengan santainya. Yaudah, aku keliling aja lah, siapa tau ada novel terjemahan jaman dulu, Never Let Me Go, karena aku penasaran untuk baca novelnya setelah dulu nonton filmnya. Tapi nihil. Aku runut satu-satu, dari cover dan judulnya gak ada satupun novel yang membuatku tertarik. Judge the book by its cover! Soalnya bukunya disegel choy. Sampailah aku di rak novel di mana ada satu cover warna putih dengan gambar kokeshi, seperti pulpen kokeshi yang dulu pernah aku punya. Judulnya juga Kokeshi. "Hmm, novel apa ya ini? Jepang-jepangan, menarik nih," gumamku. Aku cermati lagi, ada "darah" mengalir. "Wah, ini pasti novel misteri," pikirku senang karena merasa menemukan sesuatu. Aku baca sedikit sinopsis dan testimoninya. Iya, sedikit. Aku gak mau kalo-kalo testimoninya spoiler. "Fix, aku ambil novel ini," batinku mantap.


Sesampainya di rumah, aku buka segel plastik novel itu. Hmm.. udah lama banget aku gak mencium bau ini, bau kertas. Rasanya kayak udah sembuh dari adiksi, eh tapi sakau lagi. Bhahahaha.. Terakhir mencium bau kertas ini, pas baca Koala Kumal kayaknya. Jenis kertasnya sama. Sebelumnya, seperti biasa aku kasih nama dulu. Baru, aku baca mulai halaman ISBN. (Eh, halaman apa sih itu namanya?) Daftar isi aku lewatin. Aku gak suka baca daftar isi, karena nanti jadi tau alurnya. Jadi langsung ke Bab I aja. Baca-baca-baca. Eh udah habis aja, padahal baru dua hari. Maygat, ini novel mapuluh rebu cuma habis dua hari. Yang nulis aja pasti bisa sampe berbulan-bulan. Lah ini yang baca? Ah sudahlah, langsung aja ke review-nya. Aku yakin kalian pasti udah bosen sama ocehanku yang gak ada poinnya.

Judul: Kokeshi
Author: Vina Sri
Penerbit: Metamind, creative imprint of Tiga Serangkai
Tebal: 298 hlm
Cetakan pertama: April 2015

Pertama kali aku liat novelnya, aku tertarik karena covernya. Gambar kokeshi dan tetesan darah menurutku sangat menarik, menciptakan cinta pada pandangan pertama. Tapi setelah dipegang dan dibuka lembar demi lembar, covernya tipis banget. Jenis hurufnya yang terlalu thin juga rada gak nyaman buat dibaca. Aku sempet ragu mau beli apa nggak, cuma gara-gara hurufnya yang rada malesin. "Bakal capek gak ya bacanya?" pikirku meragu pas pertama kali lihat hurufnya. Tapi setelah aku tutup lagi dan melihat covernya, keinginganku untuk membeli novel ini melonjak lagi. Covernya simple dan misterius.

Dari segi penulisan. Setelah aku baca beberapa bab dari novel ini, aku mulai terbiasa dengan jenis huruf yang tadinya aku pikir terlalu thin. Butuh waktu untuk beradaptasi. Gak terlalu bikin capek juga ternyata. Tapi ada yang sedikit mengganggu di sini adalah tanda bacanya. Kadang gak konsisten. Habis titik-titik ada komanya. Lagi, penggunaan gaya bicara dari masing-masing karakter terlalu monoton. Di situ penulis sering mengatakan "Taruhan..." dan "... , ingat?" Tapi Haruna, yang nota bene adalah orang Jepang juga ngomong pake "Taruhan..." dan "... , ingat" Menurutku lebih baik kalo masing-masing karakter punya ciri khas sendiri dalam berbicara.

Dari segi cerita. Ada yang sedikit mengganggu pikiranku. Beberapa bagian ceritanya ada yang mengambang. Tujuan diceritakannya untuk apa? Selama aku membaca, aku menerka-nerka sendiri apa peran Eiji di dalam novel ini. Apa mungkin Eiji itu Davin? Tapi bukannya Eiji itu Japanese sedangkan Davin adalah orang Indonesia? Mungkin Eiji cuma figuran seperti halnya kurir ekspedisi palsu dan orang-orang yang tanya jalan, gak tau deh.

Gak cuma itu, riddle nya juga terlalu mudah. Dalam sekali baca aja aku udah langsung menemukannya. Tapi ada yang aneh di sini. Kemarin, Dina dapat satu kokeshi dari kurir. Terus, pas dia ngambil barang-barangnya Ira yang ketinggalan di Sukabumi, dia dapet satu kokeshi lagi yang katanya warna merahnya lebih terang. Nah, pas aku pecahin riddle-nya (saelah, gaya lu) didapatkan dua kata, KOKESHI dan TWINS, yang artinya KOKESHI dan KEMBAR. Awalnya aku kira, rahasia Ira itu melibatkan dua kokeshi. Dua kokeshi digabungkan, kemudian akan ditemukan rahasia Ira. Tapi ternyata aku salah. Kedua kata itu gak berkaitan. Rahasianya hanya ada di salah satu kokeshi, sedangkan kata TWINS-nya untuk membuka chip rahasia yang ada di dalam kokeshi itu. Lalu kokeshi satunya? Lagi-lagi perannya apa?

Satu lagi, seperti yang dikatakan Dina di akhir cerita, semuanya tidak perlu terjadi kalo dia langsung melibatkan Pak Arya, seorang polisi yang juga teman dari papanya Dina. Ya, memang. Kalo saja Dina langsung menyerahkan paket dari Ira yang dikirim melalui ekspedisi, pasti gak akan ada cerita ini, gak akan ada novel ini. Soalnya Pak Arya bisa sangat mudah membuka kokeshi itu. Semua kejadian yang terjadi di novel ini hanya untuk mencari password dari sebuah chip rahasia, yaitu kata TWINS.

Overall, novel ini sangat menarik. Kata kunci yang dimilikinya berhasil menarik perhatian. Kembar, Jepang, dan pembunuhan. Novel dengan genre detektif yang tidak terlalu berat. Cocok banget untuk yang suka novel misteri tapi gak suka terlalu mikir berat. Namun untuk novel ini, perlu diperhatikan dalam perpindahan dari satu petunjuk ke petunjuk lainnya sedikit kaku, seperti ada yang dipaksakan dan kurang mengalir secara halus.

Rating: 4/5

0 comments:

Post a Comment

 

LIMPPOMPOM Template by Ipietoon Cute Blog Design and Waterpark Gambang